Foto Bugil Mantan Kekasih

Silahkan melihat foto bugil mantan kekasih

Foto Bugil Pegawai

Silahkan melihat foto bugil pegawai tersebut

Foto Bugil Mahasiswi Montok

Silahkan melihat foto bugil mahasiswi montok

Foto Bugil Cewek Berjilbab

Silahkan melihat foto bugil cewek berjilbab

Foto Bugil Mahasiswi Chinese

Silahkan melihat foto bugil mahasiswi chinese

Foto Bugil Abg Pentil Gede

Silahkan melihat foto bugil Abg pentil gede

Sabtu, 19 November 2011

Perkosa Keponakan SMU

Selamat datang di adadisiniloh.blogspot.com

Hari itu kebetulan rumah sedang sepi.karena istriku baru ada acara di rumah saudara nya di daerah Semarang dan akan kembali seminggu lagi. Plus pembantuku yang turut menemaninya. Praktis alu sendirian kalau lagi di rumah.
Sehabis dari kantor sore itu aku pulang dan sesampainya di dalam rumah kulihat sesosok perempuan berjilbab putih lengkap dengan seragam putih abu-abunya yang serba panjang. Dialah keponakanku Rika yang sedang tertidur di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala. Oh iya si Rika masih kelas 1 SMK. Dia sering main ke rumahku selepas pulang sekolah, jadi nya dia bebas keluar masuk rumah. Kulihat Rika yang tertidur di sofa dengan rok abu-abu panjang semata kaki namun agak ketat sehingga sepasang pahanya yang indah nampak terlihat sekal dari balik roknya. Dadanya yang mulai ranum berkembang nampak membusung dari balik hem putih OSIS lengan panjangnya. Melihat pemnandangan seperti itu bangkitlah birahiku.

Perlahan kudekati Rika dan duduk di samping nya sambil kuusap-usap pahanya yang sekal dari luar rok abu-abu semata kaki yang dipakainya. Dengan penuh perasaan kuraba-raba pahanya hingga naik terus sampai ke pangkal pahanya.

Kemudian dengan sangat hati-hati kusingkap rok seragam abu-abu panjangnya keatas hingga tampak celana dalam Rika yang berwarna putih krim, Selaras sekali dengan pahanya yang putih mulus.
Setelah kusingkap roknya perlahan kuraba belahan vagina keponakanku yang berjilbab putih itu dari luar celana dalamnya.

Sewaktu aku asyik meraba-raba kemaluannya, Rika terbangun dari tidurnya dan kaget melihat rok abu-abu panjang yang dikenakannya sudah tersingkap dan nampak olehnya aku yang sedang meraba-raba vaginanyanya.

”Jjaangannn..ommmm….jangannnn,,,jangan…”, seraya mencoba berdiri dari sofa.

Sebelum Rika berhasil berdiri dari sofa buru-buru kutindih tubuhnya hingga terhimpit tubuhku sambil membungkam mulutnya dengan tanganku, dsn tanganku yang satunya meraih celana dalam siswi jilbab ini. “Brettt…”, kutarik celana dalam Rika hingga sobek.lalu kugosok kemaluan keponakanku ini dengan jemariku. Setelah 15 menit kugosok-gosok kemaluannya dengan jari hingga terasa basah, kulepas pakaianku hingga telanjang.

Penisku yang sudah keras tegak mengacung langsung kuarahkan ke vagina Rika yang telentang di sofa. Keponakanku berjilbab putih dan masih lengkap mengenakan seragam sekolahnya namun sudah tersingkap rok abu-abu panjangnya sepinggang menangis sejadi-jadinya tatkala kutekan penisku masuk membelah gundukan vagina yang masih perawan itu.
Baru kepala penisku mulai penetrasi masuk kulihat Rika menjerit kesakitan.

“Aaaakkkhhh,,,!”, namun jeritannya tertahan karena terlebih dahulu kubungkam dengan tanganku. Gadis cantik berjilbab putih ini hanya bias menangis seraya mengeleng-gelengkan kepalanya menahan sakit yang timbul dari perbuatanku. Kupaksa batang kemaluanku untuk masuk lebih dalam ke liang surganya Rika.
Setengah batang penisku sudah masuk menembus liang vaginanya, dan terasa ada sesuatu yang mengalir di sela-sela vaginanya. Ternyata darah perawan siswi berjilbab keponakanku ini mengalir hinga membasahi sofa ruang tamuku.

Akhirnya dengan usaha sekuat tenaga penisku terbenam juga seluruhnya. Sesaat kudiamkan di dalam seraya meresapi betapa nikmatnya jepitan nan hangat liang surga milik Rika.
”Ssshhh…ohh,,,nikmattt banget punya kamu Rikaaahh…..oohhh”, racauku sembari mulai menggenjot vagina siswi berjilbab putih keponakanku ini.

“Ukkkhh…hehhh…”, desah Rika seakan membalas racauanku seraya mengeleng-gelengkan kepala yang masih terbalut jilbab putihnya. Air matanya nampak mengucur deras dari kedua kelopak matanya yang terpejam menahan perih persetubuhan paksa ini.

Setelah 5 menit menyetubuhi Rika dengan gaya missionary, tanpa mencabut penisku dari liang surgawi Rika, kubalik tubuhnya dan kuposisikan agar menungging dan kedua tangannya bertumpu pinggiran sofa. “Awas kalau kamu teriak om bunuh!’, ancamku lagi.
Setelah pas posisinya menungging, kusibakkan lagi rok abu-abu panjangnya sepinggang. Begitu indah pemandangan di hadapanku ini. Keponakanku yang masih mengenakan jilbab putih serta hem putih lengan panjangnya namun rok rok abu-abu panjangnya sudah tersingkap sepinggang hingga kemontokan belahan pantatnya yang putih mulus seakan menantang untuk minta disodok sejadi-jadinya. Lalu seraya mencengkeram bongkahan pantat yang padat nan kenyal itu kumulai menyodok-nyodok liang surgawinya dari belakang. “Oouhh…aaakkhh..ampunnnnn ommmm...sakittttttt...sakiittttt!”, teriaknya tatkala hentakan keras penisku menghujam keras dari belakang. Wajahnya yang manis terbalut jilbab putih nampak mendongak dan meringis kesakitan. Lalu disela-sela genjotanku kuremas-remas buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya

“SShhh..oooohhhhh,,,ooohhhhh enak bangetttt memekmu Rikaaaa,,,,”, racauku sembari memeluknya dari belakang dan meremas bongkahan buah dadanya yang masih terbungkus hem putih OSIS lengan panjangnya.

“Aaahhh…uuhhhh…”, desahnya dengan mata terpejam seraya kedua tangannya mencengkeram pinggiran sofa kuat-kuat.

Hampir 20 menit kugenjot keponakan berjilbabku ini dengan posisi kesukaanku ini. Dan nampak ia makin kepayahan. Hem dan jilbab putihnya sudah awut-awutan. Begitu pula rok abu-abu panjang semata kaki yang kusingkapkan sepinggang. Semuanya sudah nampak lepek basah oleh keringat persetubuhan terlarang ini.

Akupun merasa akan mendekati puncaknya. Sudah terasa spermaku bergejolak mendesak untuk keluar dari sarungnya. Lalu seraya mencengkeram kepalanya yang berjilbab kutarik tubuh Rika hingga merapat ketubuhku hingga kini posisi kami duduk berpangkuan dengan tubuh Rika yang membelakangiku.

Kupercepat sodokanku hingga bunyi benturan pantat keponakanku dengan selangkanganku semakin terdengar kencang,“Plakk…ceplakk!”. “Uhh…Rikkahh!”, seruku sejadi-jadinya menahan nikmat hendak mencapai klimaks seraya mencengkeram dan meremas kuat-kuat kedua payudara siswi berjilbab keponakanku. Rika yang sedang kugenjot dalam kecepatan penuh ini dari belakang hanya biasa merintih-rintih seraya memegangi kedua pergelangan tanganku yang sedang meremas-remas kedua buah dadanya.

Tubuh Rika yang sudah amat kepayahan menghadapi serangan penisku mendadak mendadak bergetar hebat. Tubuhnya melengkung kebelakang hingga kepalanya yang berbalut jilbab putih itu menempel di pundakku. Nampaknya dia telah mencapai puncak orgasmenya. Dan bersamaan dengan itu pula, “ Aaahh…Riikkaahh…nniihhh!!”, akupun mencapai puncak orgasme sembari menyodok dalam-dalam penisku ke dalam liang surga Rika.
”Crrooottt,,.crooot….crottt”, spermaku menyembur kedalam rahimnya bercampur dengan cairan kewanitaan yang juga menyembur berbarengan

Lalu kami berdua tersungkur lemas diatas sofa dengan posisi tubuhku menindihnya dari belakang.
Setelah beberapa saat tenagaku pulih, aku bangkit seraya mencabut penisku dari lubang kemaluan keponakan berjilbabku ini, seraya berkata, “Awas kalau Rika berani bilang siapa-siapa”, ancamku sambil memakai pakaian gue yang berserakan di lantai.
”Sekarang mandi sana biar segar”, titahku padanya yang masih tertunduk letih dan lemah di pinggir sofa. Perlahan siswi berjilbab keponakanku itu bangkit dan pergi ke kamar mandi dengan seragam sekolahnya yang sudah awut-awutan serta ada noda darah dan sperma menempel di ujung kain rok abu-abu semata kakinya.

Sembari tersenyum penuh kemenangan kutepuk pantatnya yang bahenol itu, sembari mengingatkan, “Ingat, mulai besok kamu harus sering-sering nginep disini. Om masih pengen terus menikmati memekmu yang hangat itu.” Dan dengan tatapan kosong, keponakanku yang berjilbab itu hanya mengangguk lemah tanpa mengucap sepatah katapun.

Jumat, 18 November 2011

Susan Adik Teman Ku

Selamat datang di adadisiniloh.blogspot.com

Susan yang kukenal dulu adalah seorang gadis cantik, adik dari salah seorang temanku, umurnya masih 14 th, saya mengenal dia sejak kecil, memang dari kecil dia sudah terlihat cantik, putih, berambut sebahu dengan rambut kemerahan, mata bening dan bulat, bibir yang mungil dan merekah, body yang montok dan sexy. Sifatnya yang manja, cuek namun bisa galak juga terhadap cowok yang iseng.


Sejak saya pindah ke kota B saya jarang bertemu dengan dia, sampai setelah 5 tahun tiba-tiba dia meneleponku.
“Ko Andi, ini Susan, masih inget gak? San sekarang ada di B, mau kuliah sambil cari kerja”
“Oh, Susan.. gile udah gede ya sekarang udah mau kuliah ya? tinggal dimana nih?”
“San, kos di daerah C, San pengin ketemu ko Andi nih kangenn..” sambil bersuara manja.
“Oke, nanti saya mampir deh, telponnya berapa?”.
Setelah berbasa-basi sebentar saya tutup telponnya. Hm.. terbayang deh.. gadis yang sering menggoda saya pada waktu itu, hanya saya tidak mau menanggapi karena selain masih kecil juga dia adalah adik teman saya.

Dua hari setelah telepon itu, saya datang ketempat kos dia, Susan seneng banget tuh.. senyumnya sumringah.. “Ko.. (dg suara manja), kamar San kecil, jadi maklum ya berantakan, sini ko masuk duduk didalam aja..”.

Memang ukuran kamarnya lumayan sempit, tapi bersih dan cukup teratur sih..
Tiba-tiba dia nanya, “Ko.. (manja lagi dah suaranya..) koko kangen gak sih sama Susan?”.
Saya cuma senyum.., “Memangnya kenapa San?”

“Gak apa-apa sih cuma kangen aja pengin ketemu, pengin ngobrol banyak sama Koko”.
“Oh..” gumam saya sambil senyum (boleh dibilang saya termasuk grogi sama ceweq manja dan agresive).
Lalu saya ajak dia pergi makan malam, dan ngobrol sampai malam, kira-kira pk. 22.00 saya pamit pulang.
“Oke San saya pulang dulu ya, udah malam.. ”
“Iya deh Ko, besok mau datang lagi?”
“Lihat besok deh, bisa apa gak.. soalnya besok sabtu saya suka males pergi ada siaran sepakbola sih..”.
Tiba-tiba dia mendekat dan.. crup.. dia mencium pipi saya.. ops.. saya kaget juga.. sambil cengengesan dia juga senyum.. manis banget deh..

“Gak apa-apa kan San sun Koko.. abis udah kangen banget sih..”.
Saya cuma mesem aja.. gile juga nih anak agresive banget.. dalam hati sih pengin juga tuh saya sosor bibirnya yang menantang terus apalagi payudaranya makin ranum dan besar.. hm.. timbul dah pikiran ngeres.. Sejak kejadian dia mencium pipi saya, terus terang saya jadi agak kikuk karena gak menyangka dia koq jadi agresive, dan manja banget sama saya, saya jadi agak risih dan menjadi gak enak mengingat dia adalah adik teman saya dan membuat saya jadi agak sungkan untuk bertemu dia lagi, selalu ada alasan sibuk kerja, ada acara, dll apabila dia ingin bertemu dan meminta saya datang ke tempat kosnya. Sampai 3 bulan berlalu, tiba-tiba dia datang ke tempat kos ku bersama seorang cowoq,

“Hallo Ko Andi, ini Susan kenalin.. namanya Bobby..”
“Pacar nih?”, bisik ku di dekat telinga Susan..
“Temen lah.. tapi dianya sering tuh main ke kos San..”
“Trus ngapain di bawa kesini? Ntar dia cemburu loh..”
“Cemburu? Ya diputus aja.. memang San suka ama dia?”
“Gak juga.. cuma temen aja mau antar-antar San pergi, oh ya ini Ko Andi, San bawain makanan buat koko, San tahu dah kalau udah sabtu begini Ko Andi jarang keluar kos”
“Thanks San, San sendiri udah makan?”
“Udah Ko, tapi San temenin Koko makan deh..”, dia lalu ambil piring, sendok garpu dan gelas minuman diatas kulkas.

Memang kamar kos saya termasuk komplit, ada kulkas, kamar mandi dalam, TV, VCD, audio music, komputer, dll. Sementara saya makan, si Bobby menunggu di luar kamar.
“Udah deh San, sana kamu temenin dia pergi jalan-jalan lagi.. kasihan kan nunggu diluar..”
“Ach.. biarin aja Ko.. kalau mau sama Susan ya kudu nurut dong..”
Ich.. susah bener deh ngomongin ini anak.. Akhirnya setelah menunggu kira-kira 1 jam, Susan pun pamit pergi dengan Bobby. Ach..lega deh udah gak ada yang gangguin lagi.. Setelah nonton siaran langsung saya udah ngantuk berat, kira-kira pukul 23.30 saya siap tidur, lampu kamar sudah dimatikan, dan saya sudah menarik selimut, tiba-tiba pintu kamar diketok perlahan.. tok.. tok.. siapa sih malam-malam begini masih gangguin? dalam hati saya.., dengan agak malas saya buka pintu, ternyata.. Susan yang datang.. sambil senyum..

“Lho.. koq balik lagi San? tanyaku heran..”
“Mana Bobby?”
“Dia marah Ko, tadi San sama dia habis ribut.. cemburu tuh.. lalu di jalan San turun dah dan naik taxi ke sini, biar dia nyariin ke kos Mas bodo dah.., San mau nginap disini ya Ko, boleh kan?” rayunya dengan manjaa banget..

Duh.. gimana nih.. koq mau nginap? saya cuma terpaku diam saja.. bingung.. mau saya tolak kasihan, mau diantarin pulang ke kosnya udah malem males juga.
Malam itu Susan mengenakan sweater biru tua ketat dengan kragh yang menutupi lehernya, dibalut dengan jeans biru ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sangat proporsional, ditambah payudaranya yang menonjol jelas sekali, pinggang yang ramping plus pantatnya yang ketat dan sexy, ugh.. membayang dia telanjang udah tegang anuku.

“Ko, San pinjem kaos dan celana pendek dong supaya tidurnya enak”.
Lalu saya pinjamkan kaos dan celana bola yang ada karetnya. Tiba-tiba dia membuka sweaternya.. glek.. glek.. saya menelan ludah melihat dada yang putih mulus dan terlihat dengan jelas 2 BH gundukan dada yang putih, besar dan montok dibalut dengan BH berwarna cream, lalu saya cepat-cepat melengos dan pura-pura ke kamar mandi, dari balik kunci pintu saya intip dia mulai melepaskan celana jeans dan BHnya, ugh.. tambah tegang aja nih anuku.. buset dah kaki dan pahanya mulus banget.. kaki jenjang putih, celana dalam hitam model mini. Anuku tegang terus sampai susah untuk buang air kecil.
“San, tidur deh udah malam” sahutku sambil membaringkan badan di kasur yang ada dilantai.
Susan juga mulai membaringkan badan di ranjang diatasku.
“Ko, tidur di atas aja deh.. di lantai kan dingin”
“Ach gak apa-apa San, takut kejadian macem-macem”, sahutku sambil membuang muka saya ke arah berlawanan dari ranjang dia.

Tiba-tiba dia merosotkan tubuhnya ke badanku dan langsung mencium bibirku dengan cepat sekali.. srupp.. ach.. saya kaget dan reflek melepaskan diri, namun tanpa bicara apa-apa lagi dia mulai mencium bibirku lagi kali ini lebih ganas.. bibirku dan lidahku dikulumnya dengan ganas.. ach.. anuku makin tegang.. akhirnya aku tak kuasa menahan serangan ciuman itu dan membalas dengan ganas juga, aku cium bibir bawahnya, lidahnya.. ah.. nikmat sekali ciumannya.. dia menciumku sambil memejamkan matanya.. kami berciuman cukup lama, lama-kelamaan aku semakin bernafsu, darah semakin mendidih, badan menjadi semakin panas, anuku semakin tegang apalagi buah dadanya menempel didadaku, lalu aku membalikan tubuhnya di bawahku, dan aku kembali menciumi bibirnya semakin ganas,
“Oh.. ko enak..” lenguhnya..

Lalu aku mulai menciumin lehernya yang jenjang dan mulus, kuciumi juga telinganya.. dia menggelinjang dengan geli, lalu dari leher aku mulai menciumi dadanya yang masih tetap memakai kaos, terasa sekali betapa empuk dan besar payudaranya.. kuciumi ujung putingnya yang semakin mengeras, sambil terus kuciumi putingnya, tanganku mulai merogoh kedalam kaosnya, dan menyentuh payudaranya yang telah menghangat, ah..empuk sekali dan besar..

kuremas-remas dengan lembut payudara kanannya sedangkan payudara kiri tetap saya ciumi, tiba-tiba dia membuka kaosnya dan membiarkan saya melahap payudaranya dengan bebas merdeka tanpa halangan apa-apa lagi, kuremas-remas bergantian ke 2 payudaranya itu, betapa mulus dan putih sekali kulit dadanya, putingnya masih kecil dan merah, lingkaran susunya masih kecil dan merah, kuciumi dan kujilat bergantian ke 2 puting susunya.. sambil meremas dengan lembut.

Susan hanya melenguh perlahan dan tetap memejamkan matanya menikmati ciumanku. Lalu perlahan-lahan tanganku mulai merabai pahanya, ku usap- usap dengan lembut paha kanannya tetapi ciuman ke puting tetap berlanjut, lalu rabaanku mulai naik ke arah pangkal pahanya, dan kupegang gundukan mungil ditengah2 pangkal pahanya, dengan jari2ku kuusap dan kugesek-gesek bibir kemaluannya, terasa basah celana dalamnya yang super mini itu, lalu jariku mulai memasuki celananya dan jariku menyentuh bulu-bulu tipis di sekitar vaginanya, terasa ada cairan lendir hangat pada jariku, lalu aku mulai menciumi perutnya, pahanya dan kulorotkan celana pendeknya dan kucium terus pangkal pahanya, lidahku menjilati seluruh paha dan pangkalnya, dan dengan perlahan kutarik perlahan celana dalamnya.. dan ah.. terlihat vaginanya yang masih mungil, rambutnya masih jarang dan tipis lembut, kucium perlahan bibir vaginanya, dan lidahku mulai menjilati bibir vaginanya dan terus masuk ke dinding vaginanya yang mulai basah dan berlendir.. lidahku terus bermain-main dengan enaknya, tiba-tiba Susan melenguh keras

“..ach.. Ko.. ach..” rupanya dia sudah orgasme..

Memang terasa semakin basah vaginanya.. terasa sedikit kasat dan asin..
“Ko, masukin dong..”

Aku kaget.. sejak berciuman Susan tidak mengucapkan sepatah katapun..
“Kamu pernah melakukannya San?” tanyaku sambil menghentikan serangan lidahku..
Susan menggelengkan kepalanya.. oh my God.. dia masih perawan rupanya..
“Kamu belum pernah San? bener nih? tanyaku tidak percaya..”
“Iya ko, San belum pernah, kalau ciuman sih pernah sama pacar, dan tadi koko ciumin dan rangsangin enak sekali, San pengin coba dimasukin ko”

Saya jadi langsung sadar dan anuku langsung mengkerut dan tidak tegang lagi, langsung nalarku sadar..
“Gak ach San, kamu masih perawan, bagus untuk calon suami San saja, sorry ya San, koko tadi bernafsu sekali dan udah bikin San jadi terangsang..” aku jadi malu sendiri, karena walau Susan bukan pacarku tapi dia adalah adik temanku dan kami saling mengenal keluarganya.
“San, kamu nyesel udah dilihat sama saya tadi?” tanyaku.
“Gak ko.. Aan seneng Koko udah muasin San, baru kali ini San ngerasain rangsangan hebat dan enak sekali..”

Aku terdiam, timbul penyesalan dalam hatiku.. gila aku udah mengajari dia menjadi terangsang.. Akhirnya malam itu pertempuran tidak dilanjutkan, karena aku menyadari aku sayang dia tapi bukan untuk pelampiasan nafsu.. ah sungguh menyesal melakukan itu terhadapnya.
Esok paginya aku antarkan dia pulang ke kosnya, sejak kejadian itu aku selalu menghindar untuk bertemu dan paling melalui telepon aku menasehati dia untuk menjadi seorang pacar yang baik dan setia. Yah.. sekarang Susan sudah menjadi seorang ibu 1 anak perempuan, pada saat dia menikah saya tidak bisa hadir karena berada di luar kota.. namun hubungan kami tetap baik.. dan kadang-kadang timbul juga sih keinginan untuk bercumbu lagi dengan dia.. ach.. memang indah dan mulus sekali tubuh Susan dan pengalaman ini tak mudah untuk dilupakan.

Memuaskan Kakak Ku

Selamat datang di adadisiniloh.blogspot.com

Nama aku Randi 19 tahun, aku dua bersaudara, aku anak kedua dimana kakakku perempuan berusia 5 tahun lebih tua dariku. Aku ngin menceritakan kejadian yang menimpa kehidupan seks aku 3 tahun yang lalu.

Pada waktu itu aku berumur 16 tahun masih 1 smu, sedangkan kakak aku berusia 22 tahun dan sudah kuliah. Kakakku orangnya memakai jilbab. Meskipun kakakku memakai jilbab dia sangat sexy, orang bilang mukanya sexy banget, demikian pula postur tubuhnya, tinggi 160 cm, kulit putih dan bra aku kira 36-an, tapi yang paling menyolok dari dia adalah pantatnya yang bulat besar dan bahenol, ini dapat aku nilai karena aku sering mengintip dia waktu dia sedang mandi atau sedang ganti pakaian. Jika berjalan ke mal ataupun kemanapun dia pergi, dia selalu pakai baju yang agak ketat meskipun dia memakai jilbab, orang selalu memandang goyangan pinggul dan pantatnya. Sampai-sampai aku sebagai adik kandungnyapun sangat menyukai pantat dan pinggul kakakku itu.

Meskipun kakakku memakai jilbab, kebetulan kakakku menyukai baju-baju model agak ketat dan celana agak ketat pula sehingga agak mencetak kemontokan dan keindahan tubuhnya. Apalagi jika dirumah, meskipun dia selalu memakai jilbab atau kerudung, dia selalu memakai baju tidur yang panjang tapi agak tipis sehingga agak terlihat belahan pantat dan celana dalamnya. Sebagai remaja yang baru puber dan juga olok-olok dari teman-temanku diam-diam aku sangat terangsang bila melihat pinggul kakakku. Sebaga efek sampingnya aku sering melakukan onani di kamarku atau di kamar mandi sambl membayangkan gimana rasanya kemaluanku dijepit diantara pantat montoknya.

Keinginan itu kurasakan sejak aku duduk di bangku 1 smu ini, aku sering mencuri-curi pandang untuk mengitip CD-nya apabila dia memakai rok. Dia mempunyai pacar yang berumur setahun lebih muda dari padanya. Aku sering memergoki mereka pacaran di ruang tamu, saling meremas tangan sampai mereka berciuman. Suatu hari aku memergoki pacarnya sedang menghisap buah dada kakakku di kamar tamu meskipun baju dan jilbabnya tetap terpasang di badannya, kakakku hanya mengeluarkan buah dadanya dari kancing yang terlepas sebagian, mereka langsung belingsatan buru-buru merapihkan bajunya. Malam harinya kakakku mendatangi kamarku dan memohon kepadaku agar tidak menceritakan apa yang aku lihat ke orang-orang terutama pada ayah dan ibuku.

Dik, jangan bilang-bilang yah, abis tadi si Hendra (pacarnya) memaksa Mbak, katanya. Aku Cuma mengganguk dan melongo karena kakakku masuk kekamarku menggunakan jilbab dan baju yang longgar(daster) tetapi agak tipis sambil membawa sebuah novel, sehingga paha dan dadanya yang montok terlihat karena dikamarku agak gelap sedangkan diluar lampu terang benderang. “hai, kok melongo???? “ …aku jadi gelagapan dan bilang “ia- ia mbak, aku ngga akan bilang-bilang” kataku.

Tiba-tiba dia rebahan di ranjangku dengan tertelungkup sambil membaca novel, aku memandanginya dari belakang membuat kemaluanku ngaceng karena pantat kakakku seolah-olah menantang kemaluanku. Berkali-kali aku menelan ludah. Dan pelan-pelan aku meraba kemaluanku yang tegang. Sampai kira-kira lima menit, dia menoleh ke arahku dan aku langsung melepas tanganku dari kemaluanku dan berpura-pura belajar. Kakakku mengajakku lari pagi besok hari dan dia memintaku menbangunkannya jam 5 pagi. Aku mengiakannya. Ketika dia keluar kamarku, aku melihat goyangan pinggulnya sangat sexy, dan begitu dia menutup pintu, aku langsung mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya, tapi sialnya tiba-tiba kakakku balik lagi dan kali ini da melihatku mengocok kemaluanku. Dia pura-pura tidak melihat dan berkata “jangan lupa bangunin mbak jam 5 pagi “. Lagi-lagi aku gelagapan “ia- ia – ia” kataku. Kakakku langsung pergi lagi sambil ngelirik ke-arah kemaluanku dan tersenyum. Malam itu aku ngga jadi beronani karena malu dipergoki kakakku.

Pagi harinya jam 5 pagi aku ke kamarnya dan kudapari dia sedang tidur mengakang…. Lagi-lagi aku melotot melihat pemandangan itu dan aku mulai meraba-raba pahanya, sampai kira-kira 2 menit dan ku-remas paha montoknya dia terbangun danku buru-buru melepaskan tanganku dari pahanya.

Singkat cerita kami lari pagi, dia mengenakan jilbab atau kerudung sedangkan bajunya dia mengenakan training yang agak ketat sehingga setiap lekuk pinggul dan pantatnya terlihat sexy sekali dan tiap laki-laki yang berpapasan selalu melirik pantat itu. Begitu selesai lari pagi, kita pulang naik angkutan bus dan kebetulan penuh sesak, akibatnya kita berdesak-desak. Entah keberuntungan atau bukan, kakaku berada di depanku sehingga pantat montoknya tepat di kemaluanku . Perlahan-lahan kemaluanku berdiri dan aku yakin kakakku merasakannya. Ketika bus semakin sesak, kemaluanku makin mendesak pantatnya dan aku pura-pura menoleh ke-arah lain. Tiba-tiba kakakku mengoyangkan pantatnya, karuan aku kenikmatan. ‘dik, kamu kemarin ngapain waktu mbak ke kamar kamu?” katanya “kamu onani yah??? Katanya lagi aku diam seribu basa karena malu. ‘makanya buru-buru cari pacar” katanya. “emang kalo ada pacar bisa digini yah?” kataku nekat sabil menonjokkan kemaluanku dipantatnya. “setidaknya ada pelampiasan” timpal kakakku. . “wah enak dong mbak ada pelampiasan?”tanyaku. “tapi ngga sampe gini” kata kakakku lagi sambil menggoyangkan lagi pantatnya. “kenapa” tanyaku. Sebelum dia menjawab kami sudah sampai tempat tujuan.

Pada sore hari itu, ketika aku pulang sekolah, kudapat rumah sepi sekali dan perlahan-lahan aku masuk rumah dan ternyata kakakku dan pacarnya sedang diruang tamu saling cium dan saling raba. Aku terus mengintip dari balik pintu, selembar demi selembar pakaian pacar kakakku terlepas sedangkan kakakku masih memakai jilbab dan baju jubahnya masih terpasang tetapi sudah tersingkap sampai sebatas perut, sehingga terlihat CD hitamnya yang mini dan sexy dan pacarnya sudah tinggal memakai CD saja. Kulihat tangan kakakku menelusup ke dalam CD pacarnya dan meremas serta mengocok kemaluan pacarnya yang tegang.

Pelan-pelan tangan pacarnya membuka CD kakakku dan terbukalah pantat bahenol nan montok milik kakakku. Pacarnya meremas-remas sambil meringis karena kocokan kakakku pada kemaluannya. ‘oh, aku udah ngga tahan” kata pacarnya “aku pengen masukin ke memekmu” katanya sambil mendorong kakakku sehingga tertelungkup di sofa. Ku lihat dia semakin mengangkat baju kakakku tetapi jilbabnya tetap terpasang tetapi sudah agak kusut dan menindihinya dari belakang kan berusaha menyodokan kemaluannya ke kemaluan kakakku dari arah belakang. Tapi begitu nempel di pantatnya, kuliha ar maninya tumpah ke pantat kakakku. “ohhh” dia melenguh dan kakakku menoleh kebelakang” kok udah” tanyanya Pacarnya bilang “maaf aku ngga tahan” katanya . Tiba-tiba lampu padam dan telepon HP sang pacar berdering dan di balik pintu aku sedang beronani ria sambil melihat kemontokan tubuh kakakku. Setelah menerima HP, sang pacar menyalakan sebatang lilin kecil diatas lemari dan dia berpakaian dan buru-buru pamit. “Aku ngga anterin kedepan pintu yah “ kata kakakku sambil tetap tertelungkup di sofa….. Begitu sang pacar hilang , nafsuku sudah ke ubun-ubun, di kegelapan remang-remang aku mendekati kakakku dan setelah dekat, dari jarak kira-kira satu meter aku memandangi bagian belakang tubuh telanjang kakakku, berkali-kali menelan ludah melihat pantat bahenol kakakku.

Karena udah ngga tahan, aku pelan-pelan membuka celanaku sampai copot dan kulihat kemaluanku yang besar dan panjang (itu menurut teman-temanku sewaktu kami berenang dan membandingkan kemaluan kami) berdenyut-denyut minta pelampiasan. Aku langsung menindihinya dari belakang, dan untungnya kakakku mengira sang pacar belum pulang dan masih ingin ngentot dia. “aw…., dra (nama pacarnya hendra) kok ngga jadi pulang” tanyanya , karena kondisi ruangan sangat gelap sehingga dia tidak menyadari bahwa adiknya sedang berusaha menempelkan kemaluannya ke kemaluanya. “aw dra jangan dimasukan aku masih perawan katanya ditempelin aja dra aku masih perawan’ katanya memohon. Karena aku udah tahan, maka pelan-pelan ku bimbing tangannya untuk menggengam kemaluanku dan agar ditutun ke kemaluannya. Begitu dia megang “dra, kok gede amat sih”katanya heran (soalnya punya pacarnya jauh lebih kecil daripada punyaku)sambil membimbing kemaluanku dan menempelkan kekemaluannya. “gosok pelan-pelan dra”, aku menekan dan gila bener-bener nikmat. Setelah kira kira dua menit aku menggosokkan kemaluanku ke kemaluan kakakkut akhirnya aku mencapai klimaksnya dan crot…crot..crot…spermaku menyembur ke pantat kakakku.

Aku tetap memeluk tubuh kakakku dan pelan-pelan aku meninggalkannya. “dra, mau kemana?” teriaknya aku buru-buru memungut celana dan memasuki kamarku dan masih celana dan CD ku belum kupakai aku rebahan di ranjangku sambil kututupi dengan selimut tipis membayangkan kenikmatan yang barusan terjadi.

Tba-tiba telepon berdering dan lampu menyala. kudengar kakaku menerima telepon itu dia herannya setengah mati karena yang menelepon adalah pacarnya si henra. “dra, kok kamu udah ada di rumah lagi jangan main-main yah kamu dimana, udah enak langsung lari” Beberapa saat kemudian kudengar bunyi telpon dibanting. Dan dikamarku, aku cepat-cepat mematikan lampu dan pura-pura tidur. Semenit kemudian kakakku masuk ke kamarku dan melihat aku tidur berselimut dia menghampriku dan duduk di tepi ranjangku. Di kegelapan kamarku kuintip kakakku masih memakai pakai dan jilbab yang tadi dia pakai,dia ngga berani membagunkanku malahan rebahan disampingku. Kesunyian sekitar 15 menit, kemudian kuintip ternyata kakakku tertidur. Akupun tertidur sampai keesokan harinya.

Setelah kejadian hari itu aku selalu membayangkan betapa enaknya tubuh kakakku meskipun hanya menempelkan dan menggosokan kemaluanku pada kemaluannya saja. Pada suatu siang, aku ingin meminjam kaset lagunya. Karena sudah biasa, aku pun masuk tanpa mengetuk pintunya. Dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat mbak Desi kakakku sedang tidur-tiduran sambil memejamkan matanya. Tangannya masuk kedalam CD nya sedangkan jilbab dan bajunya masih terpasang, hanya bajunya sudah tersingkap sebatas perut. Spontan, ia terkejut ketika melihatku. Aku segera keluar.

Tak sampai satu menit, mbak Desi keluar (pakaiannya sudah rapi meskipun jilbabnya agak kusut). Ia memintaku agar merahasiakan hal itu dari ayah ibuku. Lalu kujawab:
“Aku janji ga bakal bilangin hal ini ke ayah ibu koq.”
“Thank’s ya dik.”
“Eh, emangnya onani itu dosa ya?”
Bukan jawaban yang kudapatkan, malah tatapan kakaku yang lain dari biasanya. Bagai disihir, aku diam saja saat dia menempelkan bibirnya ke bibirku. Dilumatnya bibirku dengan lembut. Dikulumnya, lalu lidahnya mulai menembus masuk ke dalam mulutku. Aku segera menarik diri darinya, tapi ia malah memegang tanganku lalu mengarahkannya ke dadanya dan kurasakan betapa empuknya buah dada kakakku. Refleks aku berontak karena aku malu. Tetapi kakakku bilang,"lakukanlah dik seperti yang kau lakukan tempo hari padaku".
Aku kaget "ja..jadi mbak tahu apa yang kulakukan pada mbak tempo hari." jawabku gugup.
"ya" jawab kakakku.
"maafkan aku mbak..." ucapku
Belum selesai aku berkata, ia sudah melumat bibirku. Dan kali ini lidahnya berhasil memasuki mulutku. Kami berciuman sangat lama. Setelah puas berciuman, Ia malah menarikku ke kamarnya. Disana aku direbahkan, dan ia membuka celana dan CD ku. Kakakku tersenyum melihat kemaluanku yang sudah mengacung tegak. Ukurannya sekitar 18 cm. Lebih panjang dari punya pacar kakakku, Hendra.
Melihat kakakku tersenyum, aku mulai menarik ke atas baju kakakku. Rupanya kakakku sudah membuka Branya sehingga akupun bisa langsung melihat payudaranya yang berukuran 36B itu. Kumulai menyentuh dan meremas Payudara kakakku yang lembut, sementara baju dan jilbabnya masih terpasang walaupun agak kusut. Kakakku menggelinjang merasakan kenikmatan dan mendesah keenakan.
Setelah aku melihat kakaku sudah terangsang, Aku membuka CD warna hitam kakakku sehingga kini terpangpanglah kemaluan kakakku yang berbulu lebat tapi halus itu.

Sekarang aku memegang kemaluanku dan mengarahkan kemaluanku ke mulutnya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.

"Ayo donk mbak! Isep! Kayak mbak ngelakuinnya buat pacar mbak.”
“Koq kamu tahu?”
“Ya tahu donk..kan aku sering ngintipin mbak begituan ama pacar mbak"
“Ayo mbak.” Rengekku.
Kakakku pun mulai tertantang mempraktekkan kemampuan lidahnya. Kemaluanku segera diaremas-rems. Setelah itu dijilati dengan penuh gairah, seolah itu adalah lollipop yang manis. Kakakku pun mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Tidak bisa semua, tapi setidak-tidaknya sudah setengah yamg masuk. Di gigit-gigit kecil kepala kemaluanku sambil memainkan buah pelirnya. Akupun memejamkan mata keenakan.

Kakakku melepaskan kemaluanku dari mulutnya, tangannya mengangkat baju panjangnya dan menempelkan kemaluanku ke payudaranya aku pun membuka mataku. Lalu meraih kuraih kemaluanku, kuarahkan kemaluan itu ke kekemaluannya yang sedari tadi sudah basah. Kugosok-gosoknya ke klitorisnya, aku jadi merinding dibuatnya. Desahan tak karuan pun keluar dari mulutku. Di satu sisi aku tahu ini salah, tapi di sisi lain, aku benar-benar menikmatinya.

Setelah puas bermain-main dingan klitorisnya, kemaluanku segera ku arahkan ke lubang kemaluannya. Tetapi kakakku bilang "Jangan dimasukan, aku masih perawan. Ditempelkan dan digosokan aja seperti tempo hari"
Akupun mengangguk dan segera ku tempelkan dan kugosokan kemaluanku ke kemaluan kakakku. Setelah beberapa saat kemaluanku ku tekan tekan ke lubang kemaluan kakakku maka crot...crot.. crott spermaku menyembur di perut kakakku.
Dengan kemaluan masih menempel di perut kakakku, kami mulai bercumbu lagi, kujilat payudara kakaku sampai perutnya. Setelah itu kami mengambil posisi 69. Aku pun mulai menjilati kemaluannyanya yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya. Sementara ia menjilati kemaluanku.

Kami saling berpelukan bugil, setelah puas bermain, kami pun menuju kamar mandi, namun belum sempat bermain di kamar mandi, kudengar suara mobil orangtuaku. KAmi cepat-cepat kembali ke kamar dan berpakaian. Saat orangtua kami masuk, aku sudah berpakaian lengkap sedang kakaku pun sudah berpakaian lengkap dengan jilbabnya. Sejujurnya saat itu aku sedang tegang dan gugup. Untunglah orangtuaku tak curiga. Kami pun ternsenyum berdua dengan penuh arti. Sejak saat itu kami saling memuaskan walupun tidak sampai memasukan kemaluanku kedalam kemaluannya karena aku takut kakakku kehilangan keperawanannya. Kadang-kadang kami juga main di sofa, di lantai, dan kamar mandi.

Kamis, 17 November 2011

Bercinta Dengan Keponakan Ku

Selamat datang di adadisiniloh.blogspot.comKebetulan sekolah sedang libur di bulan Oktober ini, aku (namaku Tris) bersama istri dan kedua anakku (yang besar baru kelas I SD) berlibur ke Malang sambil mengunjungi orang tua istriku. Rumah mertuaku bukannya di kota Malangnya tetapi agak jauh di Desa di luar kota Malang yang masih terasa sejuk. Seperti kebiasaan di desa, tetangga-tetangga mertuaku masih termasuk keluarganya juga dan di samping kiri rumah mertuaku adalah keluarga adik perempuannya yang sudah mempunyai anak 3 orang dan semuanya perempuan. Yang terbesar nama panggilannya Asih dan masih duduk di kelas 3 SMU di desanya, yang kedua bernama Ami masih kelas 1 di SMU-nya Asih dan yang terkecil Ari masih duduk di kelas 2 SMP, sedang bapaknya kerja di suatu PT di Surabaya yang hanya pulang ke desanya setiap bulan habis gajian.Yang kudengar dari mertuaku, ke 3 keponakannya itu walau tinggal di desa tapi badung-badung dan susah di atur sampai-sampai ibunya kewalahan. Kupikir mungkin akibat bapaknya tidak pernah ada di rumah sehingga tidak ada yang disegani.Untuk menyingkat cerita, baiklah kumulai saja kisah nyataku ini. Ketika tahu aku dan keluargaku datang di desa, ibunya Asih datang kepadaku dan meminta tolong untuk memberi les kepada ketiga anaknya terutama kepada Asih, karena ujian akhir sudah dekat. Oh iya, mertuaku dan keluarganya tahu kalau aku dulu kerja sebagai seorang Guru SLTA sebelum diterima kerja di salah satu BUMN di Jakarta. "Naak.. Triis, mumpung lagi libur di sini, tolong yaa si Asih dan adik-adiknya diberi les", kata ibunya Asih sewaktu semua keluarga sedang ngobrol-ngobrol. Asih dan adik-adiknya langsung protes ke ibunya,"Buu, ibu ini gimana siih. Kita sedang libur kok malah disuruh belajar?""Asiih", teriak ibunya agak keras,"Apa angka-angka di raportmu sudah bagus? Apalagi ujian sudah dekat, kalau hasil ujianmu jelek, bapakmu mana sanggup menyekolahkan kamu di Universitas swasta", lanjut ibunya dengan sedikit ngotot.Supaya tidak terjadi keributan, lalu aku berusaha menengahinya dengan mengatakan "Asiih", ibumu benar ikut ujian UMPTN itu tidak gampang. Mas Triis mau kok membantu Asih dan adik-adik dan waktunya terserah saja, bisa pagi, siang atau malam."Kebetulan hari Selasa sore, istriku dan ibunya pergi ke Kediri untuk mengunjungi saudaranya yang sedang sakit dan mungkin akan menginap semalam. Kira-kira jam 9 malam ketika aku sudah siap akan tidur, Asih yang memakai baju tidur tanpa lengan yang longgar dan belahan dadanya yang sangat rendah datang memintaku untuk mengajari matematika. "Lho kok malam-malam begini sich apa tidak ngantuk nanti?", kataku agak malas karena aku sendiri sudah mulai ngantuk. "Naah.. kata Mas Tris kemarin terserah Asih soal waktunya kebetulan lagi belum ngantuk nih Mas", jawabnya. Lalu Asih mengajakku ke rumahnya dan dia sudah menyiapkan buku-bukunya di meja makan. "Lho.. kok sepi", tanyaku pada Asih melihat rumahnya terasa sepi, "Kemana Ibu dan adik-adik mu Siih?" Sambil duduk di kursi satu-satunya di meja makan, Asih mengatakan kalau mereka sudah tidur sejak tadi.Lalu Asih mulai membuka bukunya dan menanyakan persoalan-persoalan matematika yang tidak dimengertinya dan aku menerangkannya sambil berdiri disamping kirinya sambil sesekali kulirik belahan dadanya yang sangat jelas terlihat dari atas. Payudaranya tidak terlalu besar tapi terlihat menonjol tegang di balik baju tidurnya yang berleher rendah itu. Dari pengamatanku beberapa saat sewaktu Asih mengerjakan soal-soal matematika yang kuberikan, kelihatannya dia tidak bodoh-bodoh amat, mungkin karena bandel dan tidak pernah belajar saja sehingga hasil rapornya jelek. Suatu saat ketika aku menuliskan jawaban matematika yang ditanyakannya, secara tidak sengaja siku tangan kananku menyenggol payudaranya dan terasa empuk kenyal walaupun masih terbungkus BH-ya. "Asiih, ma'af yaa tidak sengaja", kataku basa-basi. eeh tidak menyangka kalau Asih malah berguman, "Aah sengaja juga tidak pa-pa kok.. Maas", katanya dengan tanpa menoleh. Nah kesempatan baik nih, sambil menyelam minum air, sambil mengajari siapa tahu dapat kesempatan menggoda Asih yang kudengar bandel dan suka pacaran di sekolahnya, pikirku.Kembali Asih mengerjakan soal-soal yang kuberikan dan aku melihat apa yang dikerjakannya dari belakang badan Asih dan sesekali kulongok belahan dadanya yang membuat dadaku berdesir dan kepingin memegangnya serta membuat celana pendek piyama yang kukenakan kelihatan menonjok akibat penisku sudah berdiri. Aku jadi melamun dan mencari jalan bagaimana cara memulainya supaya bisa memegang payudara Asih. "Maas, panggil Asih yang membuatku agak tersentak dari lamunanku, kalau yang ini, gimana ngerjakannya?" kata Asih yang agak menunduk mendekati kertas kerjaannya di meja makan. Lalu aku membungkukkan badanku dari belakang sehingga badanku menempel di sandaran kursi dan kepalaku ada di kanan bahu Asih sambil tangan kananku menjulur ke depan di atas kertas kerjaan Asih dan menerangkan bagaimana cara mengerjakan persoalan yang ditanyakan, dan Asih tidak berusaha menghindar dari posisiku dalam menerangkan dan juga tidak berkomentar ketika beberapa kali payudaranya tersenggol tanganku sewaktu bergerak menerangkan di kertas kerjaannya. "Sudah mengerti aas", tanyaku setelah selesai menerangkan dan "Suu..daah maas", jawab Asih pelan dan kuangkat kepalaku menjauhi kepala Asih sambil kukecup mesra leher Asih yang jenjang dan kulihat Asih agak menggelinjang mungkin kegelian dengan kecupanku itu sambil berkata lirih "Aahh maas gee..niit aahh nanti Asih kasih tahu Mbak Sri (nama panggilan Istriku) lho baru tahu", menakut-nakutiku. "Yaa jangan dong Aas, bisa perang dunia nanti", kataku dari belakang dan kulanjutkan kata-kata rayuan gombalku "Haabis, Asih maniis dan body Asih menggairahkan siih", sambil kembali kukecup lehernya.Lagi-lagi Asih menggelinjang dan lalu melepaskan pinsil dari tangannya sambil berkata pelan seolah mendesah "aahh maas, jaa..ngaan nanti ada yang tahuu." Karena tidak ada tolakan yang berarti dan Asih tidak berusaha menghindar atau pergi, aku semakin tambah berani dan kupegang kepalanya serta agak kuputar sedikit ke kanan lalu segera bibirnya kucium dalam-dalam dan tidak menyangka kalau Asih malah membalas ciumanku dan tangannya dirangkulkan ke badanku. Karena dalam posisi begini kurang nikmat, sambil masih tetap berciuman, lalu kuangkat Asih berdiri dari duduknya dan kupeluk rapat-rapat badannya ke badanku. Setelah puas kami berciuman, lalu kualihkan ciuman serta jilatanku ke arah leher Asih dan kudengar Asih mulai berdesah "Aahh.. aah maass aahh.. maas ja..ngaan di sini.. nanti ketahuan", mendengar desahan yang cukup merangsang ini, aku semakin tidak dapat menahan nafsu berahiku lalu tangan kananku kugunakan untuk meremas-remas payudara Asih dari luar BH-nya dan Asih kembali mendesah "aah maas ja..ngaan disinii.""Asiih, kita ke kamar Asih sajaa yaa", dan tanpa menunggu jawaban Asih, kuangkat dan kubopong tubuh Asih sambil kutanya, "Kamar Asiih yang mana.. As?""Di dekat ruang tamu Mas", sambil kedua tangannya dirangkulkan ke leherku. Rupanya kamar Asih terpisah jauh dari kamar-kamar lainnya dan sesampai di kamarnya lalu kurebahkan Asih di tempat tidurnya dan langsung kupeluk dan kembali kulumat bibirnya dan Asih pun meladeniku serta sepertinya sudah berpengalaman.Setelah puas kulumat bibirnya, kualihkan ciumanku ke arah leher dan telinganya serta tangan kananku kugunakan kembali untuk meremas-remas payudaranya sedangkan Asih hanya mengeluarkan desahan-desahan. Sambil tetap mencium leher, telinga dan seluruh wajahnya, aku mulai mencoba melepaskan kancing-kancing baju tidur Asih dan setelah semua kancing terbuka, Asih mendesah, "Maas jangaan maas Jaa..ngan", katanya tanpa adanya penolakan atau menghentikan tanganku yang melepas kancing-kancing baju tidurnya. Ketika kubuka kaitan BH di punggungnya, Asih juga seperti tidak menolak tetapi masih terdengar desahan suaranya, "Maas ja..ngaan maas." Setelah kaitan BH-nya terlepas segera kubuka BH-nya dan terlihat payudara Asih yang tidak terlalu besar dengan puting susunya kecil kecoklatan, segera saja kualihkan cuimanku dari leher langsung ke payudaranya dan tangan kananku kugunakan untuk mengelus-elus vagina Asih dari luar CD-nya.Seraya menggerak-gerakkan bagian dadanya dan kedua tangan Asih dirangkulkan kuat-kuat ke badanku, desahan Asih semakin sering terdengar", Maas maas aduuh maas teruus maas." Desahan-desahan Asih semakin membuat penisku semakin tegang saja, dan setelah beberapa saat kuciumi serta kujilati payudaranya yang ranum itu, lalu ketelusuri perut dan pusar Asih dengan ciuman serta jilatanku dan kugunakan kedua tanganku untuk melepas CD-nya sehingga vagina Asih yang menggelembung di antara kedua pahanya dan hanya ditumbuhi bulu-bulu hitam yang tipis terlihat jelas. Ketika jilatanku sudah mendekati bibir vaginanya, secara perlahan-lahan Asih membukakan kedua kakinya dan tercium aroma khas vagina. Aku sudah tidak sabar, lalu kujilat bibir vaginanya yang agak terbuka dan kurasakan tubuh Asih menggelinjang kuat sambil mendesah agak kuat. "Maas aduuh maas sudaah maas", sambil menekan kepalaku agak keras dengan kedua tangannya sehingga mulut dan hidungku terbenam dalam vaginanya dan basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya. Lalu kuhisap-hisap bagian clitorisnya yang membuat Asih semakin sering menggelijang dan kuat desahannya, "Maas maas teruus.. Maas", dan ketika bibir vagina Asih kubuka dengan jari-jari tanganku, kulihat lubang vaginanya sudah mempunyai lubang yang agak besar dan sambil tetap menjilati vaginanya aku segera berkesimpulan kalau Asih sudah tidak gadis lagi dan mungkin sudah beberapa kali vaginanya dimasuki penis orang lain. Jilatan-jilatan serta sedotan-sedotanku sudah keseluruh vagina Asih dan pinggulnya semakin kuat pergerakannya serta kudengar desahan kuat Asih lagi "Maas, maas, Asiihh nggaak kuaat laggii maas, aahh", sambil tangannya menekan kuat-kuat kepalaku cukup lama dan pinggulnya kelojotan dengan cepat. Tapi tidak lama kemudian Asih terdiam dan yang kudengar hanya nafasnya yang terengah-engah dengan kuat. Setelah kudengar nafasnya mulai agak teratur, kurasakan kedua tangannya berusaha menarik pelan kepalaku ke atas, lalu aku merangkak di atas badan Asih dan kupegang kepalanya sambil kuciumi seluruh wajahnya dengan mulut dan hidungku yang masih basah oleh cairan vagina Asih. Sambil mencium lehernya, lalu kutanyakan apa yang ada dalam pikiranku tadi, "Asih sebelumnya sudah.. pernah.. seperti ini.. yaa?" Dan seperti kuduga Asih menjawab pelan. "Sudah Maas dengan pacar Asih, tapi tidak seperti sekarang ini, pacar Asih maunya cepat-cepat dan setelah diam sesaat Asih melanjutkan kata-katanya, "Maas, tapi jangan kasih tahu Ibu yaa?" Aku hanya mencium bibirnya dan kujawab singkat, "Nggaak akan doong aas", dan kembali kuciumi wajahnya."aas, boleeh sekarang Mas masukin?" kataku setelah diam sesaat, Asih tidak segera menjawab tetapi kurasakan kedua kakinya digeser membuka. Karena tidak ada jawaban, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan ke lubang vaginanyah serta pelan-pelan kutekan kelubangnya. Walaupun vaginanya masih basah dengan cairan, kurasakan masuknya penisku ke dalam vaginanya agak susah sehingga kuperhatikan wajah Asih seperti menahan rasa sakit dan terpaksa tekanan penisku kutahan. Melihat wajahnya sudah biasa dan kurasakan tangannya yang berada di pungungku menekan pelan-pelan, lalu kembali penisku kutekan pelan-pelan dan tiba-tiba penisku seperti terperosok ke dalam lubang, bleess.. serta kudengar Asih berteriak kecil, "aachh maas tahaan", sambil menahan pinggulku.Setelah diam beberapa saat, kudengar kembali Asih berkata pelan, "Maas .. jangaan dalam dalaam yaa Maas, Asiih takut sakiit." Agar supaya Asih tidak kesakitan, lalu kuikuti pesan Asih dan aku mulai menarik penisku pelan-pelan dari dalam vaginanya dan menekan kembali pelan-pelan serta kubatasi tekanan masuknya penisku itu seperti pertama kali masuk kira-kira sepertiga panjang penisku.Setelah beberapa kali keluar masuk, kurasakan penisku mulai lancar keluar masuk vagina Asih dan kuperhatikan wajah Asih sudah biasa dan tidak sedang menahan sakit, malahan sewaktu aku menahan pinggulku agar penisku jangan masuk terlalu dalam, ternyata sekarang Asih menaikkan pinggulnya dan tetap menekankan kedua tangannya di pinggulku. Karena sudah ada tanda ini, lalu kukocokkan penisku keluar masuk vagina Asih pelan-pelan lebih dalam, dan terus lebih dalam lagi dan terus sampai akhirnya penisku bisa masuk semuanya ke dalam vagina Asih dan setiap kali penisku masuk semua ke dalam vaginanya dan terasa sampai mentok di vagina Asih, kudengar Asih berdesah, "aahh maas", berulang-ulang.Karena sudah kuanggap lancar dan tidak ada keluhan dari Asih, sambil kuciumi wajah dan bibirnya, lalu kupercepat kocokan keluar masuk penisku di vaginanya dan akibatnya sangat terasa gesekan-gesekan di vaginanya yang terasa sempit itu, membuatku tidak sadar berdesah, "Sshh sshh.. enaak Aass.. aaccrhh", sedangkan Asih yang mungkin sudah begitu terangsang, vaginanya mencuat akibat keluar masuknya penisku dan kadang-kadang sampai mentok di ujung vaginanya, gerakan pinggulnya semakin cepat dan tidak teratur serta kuku jari tangannya mencengkeram kuat di pinggangku sambil sering kudengar desahnya, "Maas teruus maas enaak aahh sshh enaak maas." Tidak terlalu lama kemudian gerakan pinggul Asih semakin liar, pelukan dan cengkeraman kukunya semakin sering dan nafasnya juga sudah semakin cepat dan tiba-tiba Asih berseru agak keras dan mudah-mudahan tidak sampai terdengar di kamar ibu atau adik-adiknya, "Maas.. maas Asiih suudah nggaak kuaat Maas, aduuhh Maas, Asiih sekaraang aduuh, keluaar aaccrhh", serta badannya seperti kejang-kejang, dan kubantu orgasmenya dengan memeluknya kuat-kuat serta kupercepat kocokan keluar masuk penisku di dalam vaginanya sambil kubisiki, "Asiihh teruuskan saa..yang teruuskaan sampaii Asih panas", tapi bersamaan berhentinya seruan Asih saat orgasme, kulihat sekelebat wajah perempuan entah Ami atau Ari menutup korden kamar Asih lalu berjingkat pergi dan Asih kelihatannya tidak tahu dan aku pun tidak akan kasih tahu. Tidak lama kemudian Asih terdiam dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan menciumi seluruh wajahku serta membisikiku "Maas, maas hebaat, Asiih baru bisaa puaas sekarang dan Asiihh capeek bangeet maas."Karena mendengar Asih mengatakan capai, aku jadi tidak tega lalu kubilang "Assiih, kalau asih capek istirahat saja duluu Mas cabut dulu yaa.. punya Mas?""aahh biaarkan sajaa.. duluu maas, maskan belum keluaar", jawab Asih tenang sambil mencium wajahku. Kulihat nafas Asih sudah normal kembali dan kedua tangannya diusap-usapkan di punggungku sambil masih tetap menciumi wajahku dan kurasa ini sebagai tanda bahwa Asih sudah siap lagi, lalu pelan-pelan aku mulai menggerakkan pinggulku lagi sehingga penisku mulai keluar masuk vaginanya yang semakin basah sambil kusedot-sedot salah satu puting susunya dan terdengar jelas bunyi, crroott crroot, pada saat penisku masuk ke dalam dan Asih masih diam saja mungkin sedang menikmati enaknya dinding vaginanya digesek-gesek penisku. Makin lama kocokan penisku semakin kupercepat dan sekarang terasa Asih sudah menggerakkan pinggulnya sehingga penisku terasa semakin nikmat sehingga tanpa sadar aku mendesis, "Aasiih enaak Aas aduuh enaak Aas", dan hampir bersamaan Asih pun mulai mendesah, "Maas.. Asiih jugaa Maas teruus maas aduuh.. enaak maas." Gerakan penisku keluar masuk semakin kupercepat dan terasa spermaku sudah di ambang pintu mau keluar dan kucoba menahannya sambil kutanyakan,"Asiih maas sudaah nggaak kuaat keluarkannya dimanaa Aas?""Maas, biariin di dalam maas, Asiih pingin disemprot maas ayoo sama samaa Maas ayoo sekaraang Maas!" dan aku berseru agak keras"aaccrhh aahh Maas keluaar aaccrhh", sambil kupererat pelukan dan penisku kutekan dalam-dalam ke vaginanya dan hampir bersamaan Asih pun berteriak cukup keras,"Maas aacrhh maas Asiih keluaar." sambil menggerakkan pinggulnya secara liar. Setelah itu kami sama-sama terdiam tapi dengan nafas yang tersengal-sengal dan segera kucabut penisku dari dalam vagina Asih dan langsung kupakai celanaku tanpa me-lap lagi dan kubilang, "Asiih Mas pulang kesebelah dulu yaa, takut dicariin."Sesampainya di rumah mertuaku yang cuma sebelah rumahnya Asih, aku tidak melihat tanda-tanda ada yang masih ada yang bangun. Lalu kukunci semua pintu-pintu dan aku langsung tertidur di dekat ke 2 anakku. Siang harinya waktu aku sedang ngobrol dengan beberapa keluarga istriku di rumah mertuaku, tiba-tiba telepon berbunyi dan salah seorang memanggilku. "Maas ada telepon dari Mbak Sri", (nama Istriku)."Maas", kata istriku dalam telepon, "Kayaknya aku belum bisa pulang hari ini mungkin baru besok, habis ibu banyak yang perlu diurus. Jaga anak-anak ya Maas", kata istriku mengakhiri teleponnya.Kira-kira jam 3 sore, sedang nikmat-enaknya baca koran di ruang tamu rumah mertuaku sambil minum kopi. Si Ami (anaknya adik ibu mertuaku yang masih duduk di kelas 1 SMU dan adiknya Asih) datang menghampiriku lalu duduk di kursi sebelahku dengan wajah yang agak serius. "Ooom, Ami mau ngomong sedikit dengan om", (menceng juga si Ami ini, aku masih terhitung Masnya kok malah di panggil om). Aku jadi agak deg-degan melihat wajah Ami yang serius itu dan aku jadi yakin kalau yang mengintip tadi malam itu pasti dia, tapi dengan mencoba menenangkan diri aku bertanya pelan."Ami, ada apa kok kelihatannya serius benar sih?""Ami mau cerita ke Ibu dan Mbak Sri, soal om tadi malam dengan Mbak Asih", sahut Ami dengan ketusnya."Lho, lho tenaang sedikit dong Aam, Om kok tidak mengerti maksud Ami", jawabku dengan sedikit gemetar."aah om ini pura-pura tidak mengerti, padahal Ami melihatnya cukup lama apa yang om lakukan dengan Mbak Asih di kamarnya."Aku jadi benar-benar kaget mendengar kata-kata Ami, yang rupanya cukup lama melihat apa yang kukerjakan dengan Asih, tapi aku masih berusaha tetap tenang dan berpikir, "Masak sih kalah dengan anak kemarin sore?""Ami..", kataku lirih tapi tetap kubuat agar setenang mungkin,"Jadi Ami lama melihatnya? Kok Ami sampai tahu sih", tanyaku lagi. Dengan tetap menunjukkan wajahnya yang serius segera Ami menceritakan bahwa tadi malam, sewaktu selesai pipis di kamar mandi dan mau kembali ke kamarnya, samar-samar seperti mendengar orang sedang merintih. Karena berpikiran pasti ada yang lagi sakit, lalu Ami mencari dari mana datangnya suara rintihan itu dan ternyata datangnya dari kamar mbaknya. Tetapi karena rintihannya terdengar bukan seperti rintihan orang sakit, Ami membatalkan niatnya untuk masuk kamar mbaknya, tetapi hanya mengintip lewat korden yang menutupi pintu kamarnya Asih yang setengah terbuka dan diperhatikannya agak lama. Ami segera meninggalkan kamar mbaknya dan lalu pergi tidur karena Ami menyangka kalau aku melihatnya sewaktu wajahku menatap ke arah pintu kamar Asih."Oooh, Ami melihatnya cukup lama yaa? jadi tahu doong semuanya", kataku seperti bertanya tapi tidak mendapat jawaban dari Ami yang tetap membisu."Amii", kataku tetap lirih sambil kupegang tangannya,"Toloong doong Am, jangan cerita ke orang lain apalagi ke Ibu dan Mbak Sri, om janji tidak ngulangi lagi deeh dan om mau deh bantu Ami apa saja, asaal Ami tidak cerita-cerita", kataku lanjut. Ami tidak segera menjawab kata-kataku dan juga tidak berusaha melepas tangannya yang kupegang, tapi tiba-tiba Ami menarik tangannya dari peganganku dan balik memegang tanganku sambil mengguncangnya serta berkata,"Jadii om mau bantu Ami?" Mendengar kata-kata Ami terakhir ini, dadaku terasa agak plong."Amii, seperti kata om tadi, om akan bantu Ami apa saja asaal Ami janji tidak cerita-cerita", jawabku dengan sedikit penuh kekhawatiran."Jadii apa yang bisa Om bantu buat Ami?" tanyaku melanjutkan."Amii janji deeh om, cuma Ami saja yang tahu", kata Ami lalu diam sebentar."Oom begini.." kata Ami lalu dia menceritakan kalau pacarnya mau ulang tahun besok dan Ami mau mentraktir makan dan memberikan hadiah ultah pacarnya, karena dulu dia juga diberi hadiah sewaktu ultah, tetapi waktu kemarin minta ke ibunya bukannya diberi tetapi malah dimarahi. Setelah Ami menyelesaikan ceritanya lalu kutanya,"Amii.., Ami butuh uang berapa..?" Ami tidak segera menjawab, tapi kemudian katanya, "Yaa terserah om saja seratus ribuu juga boleh Om", katanya sambil meremas tanganku yang dari tadi dipegangnya. Tidak kusangka aku bisa diperas oleh anak kecil, tapi yaa.. apa boleh buat daripada rahasia terbongkar, kataku dalam hati sambil terus kucabut dompetku dari kantong belakang dan mengeluarkan uang sebesar 250 ribu dan kusodorkan ke tangan Ami sambil kukatakan, "Nih Am, om kasih dua ratus lima puluh ribu buat Ami tapi sekali lagi janji lho yaa?" Ami menyambut uang yang kusodorkan sambil memelototkan matanya seperti tidak percaya serta berseru "Betuul niih Om?" dan aku menjawabnya dengan senyuman saja dan tiba-tiba Ami berdiri, memelukku sehingga kedua payudaranya yang kurasa lebih kecil dari payudaranya Asih kakaknya menempel di dadaku serta terus mencium pipiku sambil berseru "Maa kasiih yaa om, Ami janjii deeh", dan langsung mau lari kabur karena kesenangan. Tetapi langkahnya tertahan ketika tangannya kupegang dan segera kukatakan, "Amii tunggu dulu doong kita ngobrol dulu mumpung tidak ada orang." "Ngobrol apaan sih om", tanya Ami sambil duduk kembali di kursinya."Ami, om mau tanya yaa, tadi malam Ami melihatnya sampai lama sekali kenapa sih? pasti Ami pernah melakukannya juga yaa dengan pacar Ami?""aahh om siih mancing-mancing", jawab Ami sambil tertawa cekikikan."Benarkan Am? Buat apa sih om mancing-mancing, lihat dari jalannya Ami saja, Om sudah yakin kok kalau Ami sudah pernah", kataku sedikit serius agar Ami mempercayai omongan bohongku, padahal dari mana tahunya, kataku dalam hati. Ami sepertinya sudah termakan dengan omonganku, lalu sambil menggeser kursinya mendekati kursi yang kududuki Ami segera bertanya,"Bee..tul yaa om? Jadi kira-kira ibu apa juga tahu om?""Aduuh mati.. saya Om, kalau ibu sampai tahu?" kata Ami sedikit sedih dan ketakutan. Karena aku sudah bisa menguasai Ami, lalu kuteruskan saja gombalanku."Amii, coba deh ceritain ke om dan om juga yakin kalau ibu tidak akan tahu, karena sesama wanita biasanya tidak bisa melihat gelagat-gelagatnya", kataku dan kelihatannya Ami percaya betul dengan gombalanku.Setelah diam sebentar dan mungkin Ami sedang berpikir dari mana mau memulai ceritanya, lalu setelah menarik nafas panjang kudengar Ami mulai bercerita, "Begini om.." untuk menyingkat cerita, jadi pada prinsipnya Ami sudah dua kali melakukan dengan pacarnya yang duduk di kelas 2. Pertama, dilakukan di rumah pacarnya, tapi baru saja menyenggol barang Ami, eh.. sudah muncrat dan yang kedua katanya kira-kira dua minggu yang lalu dan kembali dilakukan di rumah pacarnya, barang Ami terasa sakit sewaktu pacarnya mulai menusukkan barangnya, tapi ketika Ami baru memegang barang pacarnya, eh.. tiba-tiba barang pacarnya mengeluarkan cairan putih dan langsung letoi, kata Ami sambil terus ketawa cekikikan."Oom.., apa sih enaknya gituan?" tanyanya."Ami kok tidak pernah merasakan apa-apa, tapi yang tadi malam sepertinya Mbak Asih kok terus-terusan merintih keenakan dan om juga begitu", katanya lagi."Memangnya nikmat yaa om?" Gila juga anak-anak sekarang ini, pikirku, sudah berani berbuat sejauh itu padahal Ami baru kelas 1 SLA."Yaa nikmat doong Mii", kataku sambil kuusap-usap salah satu pipinya yang terasa sangat mulus dengan punggung tanganku dan kelihatannya Ami diam saja dan menikmati usapan itu."Pacar Ami saja yang payah yang tidak bisa membuat Ami nikmat memangnya Ami kepingin yaa", sambungku."Iiihh om genit aah", jawab Ami sambil menepuk pahaku agak keras lalu terdiam sesaat seperti sedang berpikir."Oom.." kata Ami sambil terus berdiri dari kursi,"Ami mau pergi dulu yaa mau cari-cari hadiah.""Oh iyaa.. om yang tadi terima kasih yaa", katanya lagi sambil terus beranjak meninggalkanku, tapi baru beranjak selangkah Ami segera berbalik melihatku sambil berkata,"Oom, nanti malam tolong ajarin Ami pelajaran kimia yaa?" Karena takut Asih curiga lalu kujawab saja permintaan Ami,"Tidak mau ah Am, besok siang saja nanti Mbak Asih curiga.""Lho Om Tris tidak tahu yaa kalau Mbak Asih dan ibu tadi pagi pergi ke Surabaya mau lihat Bapak?""Apa tadi tidak pamit, Om?" kata Ami sambil terus pergi tanpa menunggu jawabanku.Malam harinya setelah selesai mendengarkan Dunia Dalam Berita dan beranjak mau mengunci pintu-pintu rumah mertuaku lalu terus tidur, muncul si Ami dari rumahnya sambil agak berlari dan memegang pintu yang akan kututup serta langsung berkata,"Lho om sudah mau tidur?""Iyaa Am, om sudah ngantuk", jawabku malas."Yaa om kok gituu, katanya mau ngajarin Ami, ayo dong om ajarin pelajaran kimia", rengek Ami sambil mengguncang tanganku. Melihat Ami hanya pakai celana pendek dan baju yang cekak sehingga perut dan pusarnya kelihatan, memdadak kantukku jadi hilang, lalu sambil keluar dari pintu dan menutupnya dari luar, lalu kujawab,"Ayoo kalau mau Ami begitu." Ami duduk di tempat di satu satunya tempat duduk yang diduduki oleh Asih kemarin di meja makan sambil membuka buku pelajarannya dan karena tidak ada kursi lain, aku berdiri di belakang kursi yang diduduki Ami. Ketika aku menuliskan dan menerangkan rumus-rumus kimia, aku hanya menjulurkan kepalaku kesamping kanan kepala Ami dan sesekali kualihkan pandanganku ke dalam baju Ami dan terlihat payudara Ami yang kecil tanpa memakai BH. Melihat ini penisku mulai berdiri di dalam celana pendek yang kupakai, sedangkan Ami tetap serius mendengarkan keterangan-keterangan yang kuberikan dan tidak menghindar atau menjauhkan badannya kala aku beberapa sengaja menempelkan pipiku ke pipinya. Pada saat Ami sedang menulis jawaban soal-soal yang kuberikan, kudekatkan wajahku ke wajahnya dan sengaja kuhembuskan nafasku ke dekat kupingnya sehingga Ami sambil terus menulis berkomentar, "Oom, nafasnya kok panas?" Komentar Ami tidak kujawab, tapi segera kucium pipinya dua kali dan Ami segera menghentikan menulisnya dan berkata, "Oom, jangan nakal dong", sambil kembali mau menulis.Karena nafsuku semakin meningkat dan Ami hanya mengatakan begitu, keberanianku semakin bertambah dan pelan-pelan tanganku menyelusup lewat baju pendeknya bagian bawah dan kudekap kedua payudara Ami yang kecil itu serta kuremas pelan, dan kulihat dia melepaskan pinsil yang dipegangnya dan menutup kedua matanya sambil berdesah lirih, "Ooom sshh jaangaan Ooom", dan memegang serta meremas pelan kedua tanganku dari luar bajunya. Sambil tetap kuremas-remas payudaranya, segera wajahku mencari bibir Ami dan kucium dan Ami seperti kesetanan melumat bibirku dengan ganasnya sehingga dalam benakku terlintas pikiran anak sekecil ini kok sudah pintar berciuman. Dengan masih tetap kudekap kedua payudaranya dan berciuman, kugunakan kekuatan badan dan sikuku untuk merubah posisi kursi yang diduduki Ami dan setelah kuanggap baik, sambil tetap kucium bibirnya kulepaskan dekapan tangaku pada payudaranya dan kuraih kedua pahanya serta kubopong badan Ami serta kukatakan, "Amii, kitaa ke kamar Mbak Asih yaa", Ami tidak menjawab tapi hanya memegangkan tangannya ke bahuku.Kutidurkan Ami di tempat tidur kakaknya dan segera kuangkat bajunya dari bawah serta kujilat dan kuhisap-hisap payudara Ami yang masih terbilang kecil, maklum baru kelas 1 SLA tapi sudah berani belajar intim dengan pacarnya dan Ami meremas-remas rambutku sambil mendesah, "Ooom, Ooom sshh sshh Ooom." Kuteruskan jilatan dan isapanku di kedua payudaranya bergantian dan kugunakan tangan kananku berusaha mencari dan membuka celana pendek Ami dan setelah kutemukan ternyata celana pendeknya memakai ritsluiting. Kubuka ritsluitingnya pelan-pelan dan kususupkan tanganku kedalam CD-nya serta kuelus permukaan vaginanya yang kecil dan terasa masih licin dan mulus seperti punya bayi tanpa ada bulu-bulunya dan ketika kuelus permukaan vaginanya, terasa Ami menggerakkan pinggulnya pelan dan masih tetap dengan desahannya yang kudengar semakin agak keras, "Ooomm sshh sshh Ooom." Lalu sambil mengelus vagina Ami yang cembung, kuselipkan jari tengahku di belahan vaginanya dan terasa sudah basah sekali dan jari telunjukku itu kutekan agak masuk dan kuusap-usapkan sepanjang belahan vaginanya dan ketika sampai di clitorisnya yang terasa kecil, kuusap-usapkan di seluruh clitorisnya sehingga membuat Ami menggelinjang agak keras dan mendesah semakin kuat, "Ooom sshh oom jaangaan oom sshh", dan desahan ini membuat nafsuku semakin tinggi dan penisku semakin tegang dan agak sakit terjepit celana pendekku.Perlahan-lahan aku menurunkan badanku kebawah dan jilatanku pun sudah disekitar perut dan pusarnya, dan kedua tanganku kugunakan melepas celana pendek dan celana dalam Ami bersamaan, sedang tangan Ami masih tetap meremas-remas rambut dan kepalaku. Sambil melepas kedua celananya, mulutku sekarang sudah sampai di vaginanya yang menggembung mulus tanpa bulu-bulu sama sekali dan tercium bau aroma vagina yang khas. Karena Ami masih tetap merapatkan kedua kakinya, lalu kugunakan kedua tanganku untuk membuka kedua kakinya. Pertama-tama agak susah karena Ami berusaha menahan supaya kakinya tetap rapat sambil terdengar rintihan desahannya, "Ooom jaangaan oom suudaah oom", tetapi ketika lidahku kujulurkan dan kujilati sepanjang belahan vagina Ami yang agak terbuka itu, pertahanan kaki Ami untuk tetap merapat itu sudah hilang dan kedua kakinya dapat kubuka lebar dengan mudah dan terlihat bagian dalam vagina Ami yang basah dan kemerahan itu dan malah terasa Ami menaik-naikkan pinggulnya tapi tetap mengeluarkan rintihannya, "Ooom, suudaah oom sshh oom."Semakin Ami mendesah atau merintih, nafsuku semakin kuat dan kujilati seluruh bagian vagina Ami dan sesekali klitorisnya kuhisap-hisap membuat desahan Ami semakin kuat dan kedua tangannya semakin keras meremas-remas rambut dan menekan kepalaku sehingga seluruh wajahku terasa basah semuanya dengan cairan yang keluar dari vaginanya, dan beberapa saat kemudian kurasakan gerakan pinggulnya naik turun semakin cepat dan jambakan di rambutku semakin kuat serta desahannya semakin keras, "Ooohh ooh oom aduuh oom sshh aahh ooh", dan aku jadi agak kaget karena tiba-tiba kepalaku terjepit kedua kakinya yang dilingkarkan di badanku serta kepalaku ditekan kuat-kuat ke dalam vaginanya serta tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan erangan agak kuat, "Aah aah aduuh Ooom aahh Ooom enaak", lalu Ami terkapar diam, kedua kakinya yang tadi menjepit kepalaku jatuh di atas kasur disertai nafasnya terengah-engah dengan cepat, rupanya Ami telah mencapai orgasmenya.Kuhentikan jilatanku di vaginanya dan merangkak ke atas dan kupeluk Ami serta kuelus-elus rambutnya, serta merta dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal, Ami menciumi pipiku serta berkata,"Ooom aduh kok begitu yaa rasanya.""Itu belum seberapa Am, nanti pasti Ami akan merasakan yang lebih nikmat lagi", kataku meyakinkannya sambil tetap kuusap-usap rambutnya dan kucium pipinya, Ami tidak menjawab tapi malah menutup kedua matanya dan kelihatan sedang mencoba mengatur nafasnya. Setelah kuperhatikan, nafas Ami mulai teratur, lalu sambil kucium pipinya kubisiki, "Amii sekarang oom boleh masukin punya oom ke punya Amii." Ami yang masih menutup matanya tidak segera menjawab. Setelah kutunggu sebentar dan tetap tidak ada jawaban lalu kuulangi bisikanku di dekat telinganya, "Boleh Aam?" dan Ami membuka matanya sebentar dan melihatku dengan wajah yang agak khawatir serta menjawab tapi dengan suara agak lirih yang hampir-hampir tidak terdengar,"oom, Ami takuut oom.""Takut apa Am, tanyaku pelan, oom nanti pelan-pelan kok, tidak apa-apa", sambil pelan-pelan kunaiki badan Ami dan kupegang kepalanya dengan kedua tanganku serta kuelus-elus rambutnya serta kucium kedua pipinya bergantian, sementara kurasakan kedua kaki Ami bergerak agak terbuka sedikit, entah karena menghindar tindihan kakiku atau memberikan persetujuan permintaanku serta kudengar suaranya kembali yang pelan di dekat kupingku, "Ooom, Amii takuut jaangaan Ooom." Sambil kembali kucium pipinya, kubisiki Ami, "Amm tidak apa-apa, Oom pelan-pelan kok", sambil segera kugunakan tangan kananku untuk memegang batang penisku serta mulai kuusap-usapkan kepala penisku di belahan vagina Ami, sedangkan Ami yang mungkin merasakan vaginanya tergesek oleh kepala penisku lalu dia membuka kakinya lagi agak lebar. Kepala penisku sekarang kumasukkan sedikit di belahan vaginanya dan kuusapkan ke atas dan ke bawah beberapa kali sepanjang belahan vagina Ami yang masih sangat basah. Lalu ketika kepala penisku berada di bagian bawah vaginanya dan kurasakan sudah tepat di lubang yang ku tuju, lalu kucoba menekannya ke dalam sedikit dan kusetop tekanan penisku ketika terasa mentok. Karena tidak ada reaksi dari Ami, segera kutekan lagi penisku lebih dalam dan kuperhatikan wajah Ami agak meringis sambil berkata agak berbisik "Aduuh oom saakiit jaangaan oom", mendengar suara ini segera kuhentikan tekanan penisku ke dalam vaginanya.Setelah kudiamkan sebentar, kutekan lagi penisku dan kembali kudenga, r "oom saakiit", sambil kurasakan kuku Ami mencengkeram di punggungku. Aku jadi berpikir, kata Ami penis pacarnya sudah pernah masuk walau belum semuanya, kok sekarang sulit betul masuknya, padahal ukuran senjataku termasuk ukuran normal-normal saja. Setelah beberapa kali kucoba tekan dan setiap kali kuhentikan karena Ami berkata sakit. Pada tekanan penisku yang entah ke berapa kalinya dan tekanan penisku kulakukan agak kuat, tiba-tiba penisku terasa seperti menyobek sesuatu crreet, terperosok sedikit lalu terjepit dan bersamaan dengan itu kudengar Ami agak berteriak, "Aduuh oom, sakiit." Kemudian dari kedua matanya yang masih tertutup terlihat keluar air mata. Kuhentikan tekanan penisku dan aku juga tidak berusaha untuk menariknya keluar, jadi kubiarkan penisku terjepit di vaginanya dan bisa kupastikan kalau penisku saat ini sudah masuk sedikit dalam vagina Ami. Lalu kulepas pegangan tanganku pada batang penisku dan kembali kugunakan kedua tanganku untuk memeluk kepala Ami serta mengelus rambutnya serta kucium kedua matanya yang tergenang air mata.Lalu kucium bibir Ami yang serta merta dengan matanya masih tetap merem mengimbangi ciumanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan kesempatan ini kugunakan untuk menekan penisku masuk lebih dalam ke vagina Ami dan kulihat Ami merapatkan matanya lebih rapat lagi serta melepas ciumanku serta berteriak kecil, "Aah sakiit oom", dan kembali kuhentikan tekanan penisku walau posisinya sekarang mungkin sudah setengahnya masuk kedalam vagina Ami dan kembali kuciumi kedua pipinya dengan harapan Ami akan lebih tenang. Ketika kembali kucium bibirnya dan Ami kembali meladeni ciumanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku, kembali kugunakan kesempatan ini untuk menekan penisku masuk semuanya ke dalam vaginanya dan kulihat sekarang hanya memejamkan matanya lebih rapat lagi seakan menahan rasa sakit tapi ciumanku tidak dilepaskannya dan untuk sementara kudiamkan penisku tanpa gerakan. Beberapa saat kemudian, sambil tetap masih berciuman kugerakkan penisku naik turun pelan-pelan dan kulihat sesekali Ami lebih merapatkan kedua matanya seperti menahan rasa sakit.Tetapi lama kelamaan sambil tetap kumasuk keluarkan penisku dalam vaginanya, wajah Ami sudah tidak lagi kelihatan tegang lalu gerakan penisku sedikit kupercepat dan aku tidak menyangka kalau sekarang Ami juga mulai menggerakan pinggulnya pelan-pelan. Beberapa saat kemudian kuhentikan gerakan penisku keluar masuk sambil kubisiki, "Amii coba Ami sekarang hentikan gerakan pinggul Ami dan konsentrasikan otot-otot vagina yang bagian dalam sehingga vagina Ami bisa menjepit dan menghisap penis oom." Ami tidak menjawab tapi segera menghentikan gerakan pinggulnya dan diam sambil tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku. "Ooom, Amii tidak bisaa", kata Ami lirih, "Cobaa teruus aam tadi sudah terasa vagina Ami sudah menjepit-jepit, cuma masih lemah", jawabku sambil kucium bibirnya. Kulihat Ami tetap diam tapi wajahnya dengan matanya masih tertutup, terlihat seperti lebih berkonsentrasi dan sekarang kurasakan jepitan-jepitan vagina Ami terasa lebih kuat dan membuat penisku lebih nikmat karena terpijit-pijit vagina Ami dan kubisiki dengan desahanku dan sekalian memberitahukan kalau usahanya mempraktekkan pelajaran kilatku sudah cukup berhasil."Amii yaa begituu Aam teruus enaak aam oouuhh, yaa begituu enaak aam", dan sehingga secara tidak sadar aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya lagi dengan agak cepat dan Ami pun segera menggoyangkan pinggulnya serta jepitan-jepitan vaginanya pada penisku terasa semakin kuat dan kembali kudengar desahan Ami lirih, "Ooom, oom oouuhh sshh oouuhh enaak oom", berulang-ulang sambil kedua tangannya menekan-nekan punggungku dan kuimbangi desahan Ami dengan bisikan berulang-ulang, "Yaa Aam, teruus saayaang aaohh teruus aam, jepit yang keras aam aduuh enaak sayaang." Mungkin merasa usaha menjepit-jepit penisku berhasil dan mungkin menjadi terangsang dengan bisikan-bisikanku, Ami semakin mempercepat gerakan pinggulnya dan tangannya semakin kuat menekan punggungku dan kadang terasa agak sakit karena kuku-kuku tangannya seakan menusuk punggungku serta desahannya semakin kuat terdengar, "Oooh oouuh Ooom, oouuh aduuh Oom", dan kuimbangi ini semua dengan mempercepat kocokan penisku keluar-masuk vaginanya yang kayaknya sudah sangat becek dengan cairan-cairan sehingga sangat jelas terdengar bunyi ccroot ccrroott crroott.Beberapa saat kemudian kurasakan gerakan pinggul Ami semakin cepat dan liar serta kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan dan wajahnya menegang seperti menahan sesuatu dan tiba-tiba Ami mengeluarkan teriakan agak keras dan panjang, sambil menekankan tangannya kuat-kuat dipunggungku, "Ooouuhh aahh Ooom, aaccrrhh oouuh aduuh oom aarrcchh", dan terus terkulai lemas dengan nafas terengah-engah, rupanya Ami sudah mencapai orgasmenya. Walaupun nafsuku sudah mendekati puncak tapi aku masih bisa menahan diri agar spermaku tidak keluar dan melihat Ami sudah terkapar lemas dan untuk memberi kesempatan Ami melepaskan lelahnya aku segera menghentikan gerakan penisku keluar-masuk vagina Ami, tapi masih tetap berada di dalam vaginanya sambil kupegang kepala dan kuciumi seluruh wajahnya. Setelah nafas Ami mulai agak teratur, sambil mencium pipiku Ami berkata lirih, "Ooom, Amii capeek oom, sudaah yaa oom?" sambil tangannya terasa berusaha sedikit mendorong punggungku. "Amii, oom kan belum selesai sayaang? Ami istirahat dulu saja sebentar sampai cepeknya hilang", sahutku lirih sambil kucabut penisku dari dalam vaginanya dan tiduran di sampingnya dengan tangan kiriku kuletakkan di bawah kepalanya sambil kuelus-elus rambutnya serta tangan kananku kuremaskan pelan di salah satu payudaranya yang kecil dan hanya terlihat menonjol sedikit karena Ami tidur telentang dan Ami dengan masih merapatkan matanya, hanya diam saja serta sedikit meremaskan tangan kirinya ke tanganku yang sedang mendekap payudaranya.Setelah berdiam beberapa saat, lalu sambil kucium pipinya segera kubisiki di dekat telinganya, "Amii masih capeek yaang?" Ami tidak segera menjawab bisikanku melainkan hanya sedikit meremaskan tangannya yang ada di tangan kananku, entah apa yang dimaksud dengan remasan ini. Setelah kutunggu sebentar dan masih tidak ada jawaban dari Ami, lalu segera kucium pipinya dan kubisiki lagi, "Amii, kalau sudah tidak capek toloong doong isap punya oom dengan inii yaa sayaang", sambil kuletakkan jari tangan kananku di mulut Ami dan kembali kuremaskan di payudaranya serta kucium lagi pipinya sambil menunggu jawaban Ami. Ami membuka matanya sebentar seperti terperengah mendengar kata-kataku tapi kemudian matanya ditutup kembali seraya menjawab lirih. "Ooom, Ami tidak bisaa oom, Ami belum pernaah." Aku segera menjawab, "Dicoba sayaang, nanti juga bisa", kataku sambil terus bangun dan memiringkan badan Ami ke arah kanan serta aku duduk agak mengangkang sehingga penisku sekarang sangat dekat dengan wajah Ami. Lalu kupegang tangan kanannya dan kubimbing serta kupegangkan di batang penisku yang masih basah kuyup dengan cairan yang keluar dari vagina Ami, mula-mula jarinya seperti ditegangkan dan tidak mau memegang batang penisku, tapi setelah kuremaskan tanganku di jarinya, sekarang jarinya sudah memegang seluruh batang penisku walaupun terasa agak kaku sambil berkata lirih, "Jaangaan oom!"Kemudian dengan tanganku masih menggenggam jarinya yang sudah menggenggam penisku, kubawa mendekati mulutnya dan sekarang kepala penisku sudah menempel pada mulutnya dan mungkin karena merasa mulutnya ditempeli penisku, Ami berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya lemah sambil dari mulutnya berbunyi, "hhmm, hhmm.. hhmm", tanpa kata-kata, mungkin karena takut membuka mulutnya. Usaha ini terus kulakukan sambil menggeser-geserkan kepala penisku di sepanjang mulutnya yang kecil mungil itu dan kadang-kadang sedikit kutekankan pada mulutnya yang semakin dirapatkan sambil tetap berbunyi, "Hhmm hhmm hhmm..", tapi sekarang sudah tidak sering lagi menggelengkan kepalanya. Pada usahaku berikutnya, ketika kepala penisku kembali kutekankan lebih kuat pada mulutnya yang masih tertutup rapat itu, dari mulut Ami masih terdengar bunyi, "hhmm hhmm", tapi tiba-tiba kudengar dia mengatakan "Jaangan", dengan mulutnya sedikit terbuka, kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera kusodokan kepala penisku pada mulutnya yang terbuka sedikit dan masuk seperempat batang penisku ke dalam mulutnya dan terdengar suara "hHPp", dari mulut Ami yang tidak sempat menyelesaikan kata-katanya tadi karena sekarang sudah tersumpal oleh penisku. "Ayoo aam toloong diisaap yaang", kataku sambil kulepaskan tangan kananku dan kugunakan untuk mengelus-elus rambut Ami dan dari mulut Ami hanya terdengar bunyi, "hhmm hhmm hhmm", tanpa mau menghisap apalagi menggerakkan mulutnya.Terpikir dalam benakku, mungkin Ami tidak mau berbuat lebih jauh mungkin malu karena wajahku ada di dekatnya, apalagi ini baru pengalaman pertamanya mengulum penis orang. Lalu aku berusaha merebahkan badanku di sampingnya sehingga sekarang kepalaku sudah berada di depan vaginanya (posisi 69) dan aku menjadi agak kaget karena di bibir vaginanya terlihat ada bekas darah yang sudah mengering. Aku jadi berpikir, kata Ami sudah pernah dengan pacarnya walau tidak masuk semua. Dasar Ami belum pengalaman, mungkin waktu itu punya pacarnya belum sampai masuk. Jadi aku rupanya yang beruntung dapat perawannya dan dengan agak was-was kucari di alas tempat tidur Ami mungkin ada tercecer di situ dan untungnya tidak ada, sehingga was-wasku menjadi hilang.Segera saja kujilat-jilatkan lidahku pada belahan bibir vaginanya dan benar saja dugaanku tadi, sekarang Ami sudah berani menggerakkan tangannya yang memegang batang penisku dan mulutnya maju mundur walaupun masih pelan-pelan sehingga membuat penisku terasa nikmat dan secara tidak sadar aku menyuarakan, "Aaam teruus, Aam nikmaatt, aduuh nikmat Yaang, teruus sampai dalaam Yaang sedoot aam..", sedangkan dari mulut Ami hanya kudengar suara "hhmm hhmm hhmm", saja. Karena posisi badan Ami yang miring dengan kedua kakinya bertumpu satu dengan lainnya, sehingga membuat vaginanya menjadi rapat dan ini membuatku sulit untuk menjilati dan menyedot lubang vaginanya, lalu kuangkat kaki kirinya dan kuselipkan kepalaku di antara kedua kakinya, sehingga sekarang kepalaku bersandar pada kaki kanannya serta kugunakan kedua tanganku untuk memegang kedua bibir vaginanya dan membukanya lebar-lebar sehingga dengan mudah lidah dan mulutku menjilati dan menghisap bagian dalam vagina Ami yang kemerahan serta penuh dengan cairan itu sehingga terasa seluruh wajahku seperti basah semua dan mungkin jilatan dan hisapanku ini membuat nafsu Ami semakin tinggi sehingga membuat Ami semakin cepat dan semakin dalam mengulum penisku keluar masuk mulutnya dan sesekali disertai sedotan yang kuat serta kocokan tangannya di batang penisku semakin cepat disertai suara yang keluar dari mulutnya "Hhhmm hhmm hhmm hhmm", semakin keras.Ini semua membuat nafsuku semakin tinggi dan lagi-lagi secara tidak sadar, kubalik dan kuangkat badan Ami sehingga sekarang sudah berada di atas tubuhku dengan vaginanya menutupi seluruh mulutku dan sekarang makin leluasa mulut dan lidahku menjilati seluruh vaginanya tanpa perlu harus membuka bibir vaginanya dan kugunakan kedua tanganku bergantian kadang-kadang kucengkeramkan di pantatnya, kadang-kadang kuremas-remas kedua payudaranya yang kecil dan memijat badannya dan posisi ini pun yang ada di atasku, rupanya membuat Ami lebih bebas sehingga Ami dapat memaju-mundurkan mulutnya lebih jauh sehingga kadang-kadang penisku terasa ditelannya semua dan kocokan tangannya lebih cepat dan Ami pun menggerak pinggulnya naik-turun dengan cepat sampai kadang-kadang terasa sulit bernapas karena hidungku tertutup vaginanya. Hal ini berlangsung beberapa menit dan akhirnya aku merasa agak sulit mempertahankan agar spermaku jangan keluar dulu, lalu kudekapkan tanganku pada pantat Ami dan berteriak "aamm aam oom nggak tahaan mau keluaar ayoo yang cepaat aduhh Aam acrhh", sambil kutekan penisku kuat-kuat ke dalam mulut Ami dan kutumpahkan spermaku di dalam mulutnya dan yang kudengar dari mulut Ami hanya suara, "aarcrhh aarcrhh aarrchh", sambil melepas penisku dari mulutnya dan membantingkan badannya turun dari atas badanku.Dengan nafasku masih terengah-engah, aku memutar badanku dan sambil kupeluk dan kucium dahinya aku bilang, "Aam terima kaasiih Sayaang", sedangkan Ami sambil mengelap mulutnya yang penuh dengan ceceran spermaku dengan tangannya lalu memencet hidungku sambil berkata, "Ooom jahaat mau keluar tidak bilang-bilang sampai ada yang tertelan", sambil terus memelukku dan mencium pipiku. Sambil balas kupeluk dan kucium bibirnya yang masih tercium bau spermaku, kubilang, "Sayaang tidak apa apa, itu vitamin kok."Setelah berciuman beberapa kali, lalu kubilang, "Aam, sudah malam oom mau pulang ya, terima kasih yaa aam", kataku sambil terus bangkit dari tempat tidur serta melihat-lihat seluruh alas tempat tidur Ami, siapa tahu ada darah gadisnya yang tercecer dan untungnya tidak ada dan Ami pun segera bangkit dari tempat tidur dan segera mengenakan CD-nya sambil terus merangkulku dan mencium pipiku sambil berkata,"Oom, Ami puaas Oom", dan setelah berhenti sebentar dia lanjutkan kata-katanya,"Oom kalau nanti Ami kepingin lagii, gimana dong?""Lho kan ada pacar Ami", kataku."aah tidak enak Oom, dia masih bodoh."Setelah selesai kukenakan celana pendekku lalu aku pamit."aam oom pulang yaa", dan sekali lagi Ami mencium pipiku sambil berkata,"Tidur yang nyenyak yaa.. oom."

Bayaran Service HP

Selamat datang di adadisiniloh.blogspot.comAri Rumaidi adalah salah salah satu mahasiswa Informatikan PTS swasta terkemuka di Jakarta bertinggi badan 170 cm dan berat badan 58 kg, berkumis tipis, tidak begitu kekar memang akan tetapi otaknya sangat brilian dalam hal mengotak-atik serta pemograman komputer. Ia juga mempunyai bengkel servis Handphone yang ia kelola sendiri dengan si Mamat tukangnya. Biasanya liburan semester seperti ini Ari pulang ke rumah neneknya di Bandung atau pulang ke rumah orang tuanya di Semarang, akan tetapi liburan kali ini Ari sedikit malas dan ia pilih mengotak-atik elektronik di kios sevis HP-nya di salah satu Mall terkemuka di Jakarta."Selamat siang Ari," sapa suara cewek lembut nan menawan."Yach.. siang.." jawab Ari seraya medongakkan kepalanya ke arah suara itu."Eh.. Shinta.. tumben kemari, dari mana saja kamu?" tanya Ari.Shinta adalah "kembang kampus" ditempat Ari kuliah dan Ari sudah mendengar selentingan bahwa Shinta juga sering gonta ganti laki-laki namun Shinta dan Ari beda fakultas. Kadang Shinta terlihat berjalan bareng dengan cowok muda cakep kemudian ganti dengan om-om senang, lantas beberapa waktu lalu Shinta akrab dengan Sony teman sefakultas Ari dan baru beberapa minggu mereka tidak terlihat lagi bermesraan."Ini Ar! HP-ku ngadat tolong betulin yach.." seru Shinta seraya menyerahkan HP-nya kepada Ari."Tumben Ar nggak liburan ke Bandung, kan di sana banyak mojang-mojang nan menawan?" selidik Shinta."Nggak.. males saja mendingan cari duit, sini coba aku periksa," kata Ari seraya berdiri meminta kemudian memeriksa HP Shinta."Ar! emmhh.. bisa ditunggu nggak," tanya Shinta."Nggak usah dech.. entar malem aku anterin ke rumah kamu, kasih saja alamatnya." kata Ari dengan menyodorkan secarik kertas."Itung-itung main ke rumah kamu, aku kan belum pernah sama sekali." sambung Ari."Thanks.. tapi gue punya kartu nama khok, nich" Shinta menyodorkannya kepada Ari."OK, tunggu entar malem yach jam 19:30" sahut Ari."Jangan Ar! jam 21:00 saja, soalnya aku ada janji dengan keponakan gue," cegah Shinta."Ehem.. keponakan apa kepenakan?" ledek Ari."Iiich.. sebbel dech.." kata Shinta sambil mencubit lengan Ari. Ari hanya bisa meringis saja dan melihat Shinta berlenggok ria dengan pingulnya yang aduhai."Huuhh.." keluh Ari.Memang, siapa yang tidak kenal dengan Shinta di kampus itu, disamping dia anak pejabat ia juga betul-betul cantik. Tubuhnya sekitar 167 cm, badannya tinggi langsing dan kulitnya kuning langsat bak pengantin, namun ia juga terkenal sombong dan materialistis dimata cowok maupun cewek. Payudaranya seksi 36 dan rambutnya tergerai indah. Bibirnya seksi kelihatan kecil namun tebal dan bergigi indah apalagi kalau tersenyum dengan lesung pipitnya. Ari sendiri orangnya liberal namun tidak pernah berpikiran buruk terhadap gadis manapun, ia hanya berkonsentrasi pada bisnisnya.Pukul 20:00 Ari mulai memacu Kijang hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari ayahnya dua tahun lalu dan hampir 45 menit Ari sudah menemukan alamat Shinta. Ari sengaja berpakaian santai mengenakan celana pendek komprang dan T-shirt made in Dagadu bermotifkan kartun lucu karena disamping ke rumah Shinta ia sebenarnya akan main ke rumah Sri pacarnya untuk menyerahkan HP teman sekost Sri. Ia lantas membelokkan kijang kesayangannya itu ke arah gerbang kemudian turun untuk memencet bel."Treett.. Treett.. Treett.." suara bel telah berbunyi.Agak lama ia menunggu kemudian datanglah pembantu Shinta untuk membukakan gerbang."Nggak usah dibuka Bik, aku cuman nitip ini buat Shinta." sergah Ari sambil menyerahkan HP Shinta kepada Bik Ijah."Ngg.. tapi Mas, tadi Non Shinta pesen kalo ada Mas Ari disuruh masuk dul.." belum habis Bik Ijah berkata kata Shinta menyahut dari kejauhan."Ari.. masuk dulu, soory aku habis mandi nich.. aku tunggu di ruang tamu yach!" teriak Shinta.Ari tidak menjawab, segera setelah Bik Ijah membukakan gerbang ia memasukkan kijangnya ke halaman namun Ari sempat melirik ke gumpalan pantat Bik Ijah yang masih padat.Rumah itu berhalaman luas dan berhiaskan taman nan elok serta kolam ikan lengkap dengan air mancurnya."Mas Ari mau minum apa?" tanya Bik Ijah setelah Shinta menyilakan Ari duduk."Jahe hangat boleh?" jawab Ari singkat.Sebelum Bik Ijah menghilang dari depan Ari, ia melihat Bik Ijah sempat memberikan senyuman genitnya kepada Ari."Dasar genit.. tapi bahenol juga itu Bibik," batin Ari sambil melirik ke arah Shinta dan Shinta tersenyum penuh arti di mata Ari."Aku baru saja datang dari rumah Sony, kami pun bertengkar hebat karena Sony orangnya pencemburu berat," Shinta mencoba menjelaskan."Lagian dia juga.." Shinta menghentikan pembicaraannya sejenak dan matanya menerawang jauh."Dan akhirnya kami pun berpisah.." imbuh Shinta datar, Shinta kemudian menyilangkan kedua pahanya yang bulat mulus itu, tungkainya kecil dan indah."Dilihat dari tungkainya, Shinta mempunyai nafsu seks besar dan tenaga si Sony rupanya tenaga ayam.." batin Ari, dalam hati Ari sendiri pun sudah mendengar kalau Shinta itu hasrat seksnya meledak-ledak bak merapi, hal itu dia dengar dari salah seorang sahabatnya yang pernah menjadi gacoan Shinta. Dari penjelasan Shinta, Ari tidak percaya 100% dilihat dari mimiknya yang tidak serius dan kata-kata Shinta yang tak sempat terucap tadi. Ari sendiri adalah cowok bertubuh langsing bukan atletis dan dilihat dari tinggi dan kepalan tangannya, penis Ari pasti lebih dari cowok-cowok lainnya. Panjangnya sekitar 15 cm dengan diameter 3 cm, Ari sendiri pandai berolah gerak di ranjang dan tanpa sepengetahuan teman-teman lainnya Ari sudah seringkali diajak kencan oleh tante-tante girang di Jakarta."Sorry, aku pakai ginian nggak pa-pa kan, abis mandi kan biar segar.." Shinta mencoba memohon karena ia hanya memakai sleeping jas tanpa BH. Kedua putingnya terlihat menggunung tegak ke depan sehingga kedua putingnya tersembul merangsang di balik sleeping jasnya."Nggak pa-pa kok, santai saja.. malah.. oh nggak.." kata Ari."Malah apa Ar.. kamu senang, kan?" tanya Shinta diikuti silangan kedua pahanya yang mulus."I.ii.iya.. eh.. nggak.." jawab Ari sekenanya."Nggak pa-pa Ar, kita udah sama-sama besar kok," seru Shinta menetralkan suasana kaku yang tiba-tiba menyelimuti mereka."Silakan diminum jahenya Ar?" kata Shinta mempersilakan Ari."Terima kasih Shint, oh iya nich HP-mu udah betul, kalo ada komplain hubungi aku yach." jawab Ari seraya meneguk habis jahe bikinan Bik Ijah.Entah dicampur dengan ramuan apa jahe itu sehingga tubuh Ari terasa lebih hangat dan berdesir kencang darahnya. Bik Ijah memang pembantu yang hebat, selain dia pintar memasak dia juga pandai mebuat minuman berkhasiat."Bik Ijah memang masih muda sekitar 32 tahunan menurut taksiran Ari dan ia adalah bukan janda juga bukan gadis karena ia telah ditinggal entah kemana oleh suaminya sekitar 3 tahun lalu," jelas Shinta. Shinta lantas mencoba HP-nya dan ia meminta Ari keluar, ke halaman sebentar karena ia akan menghubungi HP Ari."Yach Shin.. suaranya bagus kok," jawab Ari singkat."Entar dulu jangan di tutup dulu," sergah Shinta."Emang ada apa Shint? udah bagus kok suaranya aku terima," kata Ari sambil berjalan ke arah ruang tamu kembali."Emmh.. kamu mau nggak tidur di sini entar malem?" pinta Shinta.Ari kaget bukan kepalang karena hal ini tidak pernah ia bayangkan sama sekali dan ia tiba-tiba setengah gugup, sejenak ia terdiam namun batinnya bergejolak karena minuman jahe hangat dicampur telor bebek, merica dan madu murni."Mmm.. tapi.." kata Ari."Nggak pa-pa Papiku lagi ke Surabaya kok, biasa ada proyek dan Mamiku lagi ke Bandung karena ada acara keluarga," kata Shinta."Jangan ngeres dulu akh.." imbuh Shinta."Eh siapa yang ngeress, aku cuman bingung.. kan ada Bik Ijah!" sergah Ari."Aaakh.. ngak usah pakai alasan macem-macem, pokoknya mau kagak?" tanya Shinta."Boleh.." sahut Ari singkat."Kalo gitu kita ke ruang tengah saja yach sambil lihat televisi atau film bagus karena aku punya koleksi baru dari Papi saat dinas ke luar negri.." ajak Shinta.Berdua mereka menuju ke ruang tengah nan luas itu, berhamparkan karpet hijau muda dan bantal bantal dacron besar. Di sisi ruangan itu ada sebuah sofa panjang mengahadap ke kolam renang Ruangan itu terpisah dengan ruang lain dan hanya terhubung dengan sebuah pintu, menghadap ke kolam renang di samping rumah. "Kolam renang itu sendiri terisolasi dari ruangan lainnya dan sangat privacy sekali apalagi berdua dengan dara cantik," Ari menghela nafasnya dalam-dalam.Sedetik tubuh Ari mulai nyaman di lingkungan baru tersebut, lantas mengambil sebatang kretek 76-nya kemudian mengambil tempat duduk di karpet. Shinta lalu menceritakan tentang diri dan keluarganya yang sudah terancam hancur, papinya punya WIL dan maminya juga sering berganti-ganti gigolo untuk melampiaskan hasratnya.Malam semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:30, Ari dan Shinta masih terpaku di hamparan karpet menyaksikan acara TV yang kelihatan membosankan. Berkali-kali Shinta memindah channel akan tetapi tidak ada yang menarik kemudian setelah ngomong kepada Ari Shinta menyalakan VCD semi XX."Mau nggak liat BF daripada acaranya membosankan, aku punya dua nich?" tanya Shinta."Aku sich seneng saja.." jawab Ari datar dikuti kepulan asap harum kretek kesukaannya."Ach sialan, emang lo yang nggak seneng apaan?" kata Shinta sambil menyalakan VCD XX-nya.Kedua insan itu ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati anggur merah kesukaan Shinta dan sesekali saling cubit.Meskipun bukan pacarnya, akan tetapi Shinta adalah teman akrab Ari untuk tempat belajar mata kuliah yang Shinta sendiri tidak mampu mengatasinya. Biasanya Shinta konsultasi mata kuliah dengan Ari di bengkel kerja Ari di Mall dan sehabis itu Shinta traktir makan siang. Tak lebih dari itu memang hanya sebatas hubungan baik dan Ari juga tidak berani bertindak lebih jauh lagi karena takut Shinta tersinggung ataupun Ari bukan type Shinta.Pada adegan ranjang, wajah Shinta nampak mulai memerah tegang menahan hawa nafsunya. Kedua pahanya yang sejak tadi diam kini mulai kelihatan gelisah dan ia coba untuk digesek-gesekkan sendiri. Ari tahu memang apa yang sedang dialami Shinta dan juga pernah dialami oleh Sri, pacarnya. Shinta dengan sedikit kaku mendekatkan diri kepada Ari dan berbisik, "Ar! mau nggak kamu puasin aku malam ini?" tanya Shinta mengharap. Tanpa menjawab Ari kemudian mendekatkan diri ke shinta yang bersandar pada sofa, lengannya dilingkarkan di pundak Shinta kemudian Ari membisikkan sesuatu ke telinga Shinta."Kamu horny malam ini Shin?" tanya Ari."Akkh.. pake nanya lagi, mumpung lagi sepi.." kata Shinta sewot seraya mendaratkan french kiss di bibir Ari."Bik Ijah kemana..?" tanya Ari."Mau main berdua dengan Bik Ijah, kata Sony sich mainnya Bik Ijah lembut menghanyutkan." imbuh Shinta."Tapi entar lo puasin gue dulu nanti kalo memang aku udah ngilu kita gantian." kata Shinta kemudian merebahkan dirinya di pangkuan Ari."Mmmpphh.. aku ingin kehangatanmu malam ini Arr, karena tak ada lagi yang aku dapat harapkan.." pinta Shinta sambil meraba penis Ari yang sudah mulai setengah tegang."Mmpph.. punyamu panjang and besar.. benar dugaanku.." bisik Shinta."Kamu pasti akan menggelinjang kegelian nikmat Shin." sahut Ari seraya mendaratkan french kiss.Berdua mereka sudah hanyut dalam buaian cumbuan penuh birahi, Ari sendiri sudah sibuk dengan pekerjaan tangannya di kedua bukit kenyal Shinta yang semakin kenyal saja. Tubuh Shinta menggeliat bak cacing kepanasan dan perlahan tangan Ari turun ke arah perut Shinta melepas tali sleeping jasnya. Kini sleeping jas telah terbuka dan tubuh Shinta mulai kelihatan mulusnya, di sudut selangkangannya tumbuh rambut-rambut halus terawat dan tepat di bawahnya ada segumpal daging yang merekah berwarna pink.Tangan Ari turun ke bawah lagi untuk menggapai vagina Shinta yang sudah mulai membasah, dengan tetap mencumbui bibir Shinta Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta yang tebal seksi itu.Kedua jari telunjuk dan jari tegahnya ia buka membentuk huruf V. Tangan "V" Ari itu mulai menggosok lembut, mengapit, menjepit lembut dan sesekali dibuka lebih lebar lagi. Sementara jempolnya menekan lembut klitoris Shinta untuk memberikan sentuhan yang luar biasa nikmatnya. Tubuh Shinta kini oleng diiringi desahannya, sleeping jasnya ia buka tergesa-gesa dan dihempaskan di sofa.Tubuh mulus putih itu kini menggelinjang-gelinjang di pangkuan Ari, sentuhan tangan Ari tidak hanya terbatas itu saja dan pada suatu kesempatan telunjuknya masuk ke lubang vagina Shinta dan di tusuk-tusukan lembut. "Uuugghh.. oogghh.. oogghh.. Arr.. aaghh.. tusuk teruss.. sshh.. Arr.." pinta Shinta terbata-bata memelas. Matanya merem melek, kedua bibirnnya terbuka mendesis, mendesah dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar menikmati sensasi yang ada. Tangannya mecoba menggapai karpet untuk diremas karena ia menahan rasa ngilu, geli dan nikmat bercampur jadi satu karena permainan dua jari Ari. Kepalanya terlihat sesekali terangkat tak kuat menahan sensasi dua jari dari Ari. Shinta lalu melipat lututnya dan membuka lebar-lebar agar tangan Ari mampu membuatnya menggapai orgasme yang dirindukannya. Tubuhnya semakin bergelinjang hebat dan kini tangan Shinta mulai merangsek celana pendek Ari, kemudian dilemparkannya sembarangan lalu tangannya terlihat menelusup ke dalam CD Ari. Ari tampaknya terengah juga mendapat perlakuan seperti itu, apalagi dalam sekejap Shinta sudah melepas CD Ari dan melumat batang pejal nan hangat itu."Aaakkhh.." pekik Ari saat Shinta mulai mengulum "topi baja" penisnya. Sensasi yang ditimbulkan akibat lingkaran kepala penis itu membuat Ari tegang dan sejenak ia melepaskan kuluman di puting Shinta. "Sesshh.. ookhh.. Arr.." Shinta hanya bisa merintih saat Ari mulai merebahkan dirinya dan mengatur posisi Shinta di atas. Shinta berdiri merangkak dengan lutut kirinya sementara lutut kanannya tetap tegak bagi orang jongkok. Posisi demikian adalah posisi bagus untuk melakukan seks 69 karena dengan begitu selangkangan Shinta mengangkang maksimal dan vaginanya terlihat merekah pink. Dengan lahap Ari mulai mematukkan ujung lidahnya tepat di klitoris Shinta sehingga membuat Shinta kelonjotan, sementara kedua jari telunjuk dan tengahnya membuka, sesekali menggosok lembut bibir luar vagina Shinta. Si pemilik lubang hanya mampu mendesah saat lendirnya mulai melumasi lubang kenikmatan miliknya dan memberikan rasa geli yang amat nikmat."Aaaoogghh.. emmpphh.. sedoth teruss Arr.." desah Shinta ketika Ari mulai menghisap lembut bibir dalamnya dan dilain bagian tangan Shinta juga mulai melakukan pekerjaannya mengocok, kadang membelai lembut batang hangat milik Ari. Ari hanya bisa merasakan sedikit asin saat mani Shinta mulai meleleh sedikit demi sedikit dan dihisapnya hingga terasa kesat bagi Shinta.Shinta sendiri rupanya dendam dengan orgasme karena si Sony ternyata hanya ayam sayur dimata Shinta.Kocokan Shinta di penis Ari sebaliknya tidak terasa nikmat bagi Ari karena Shinta kocokannya tak karuan alias ngawur. Shinta hanya konsentrasi menggapai nikmatnya orgasme dengan mulut Ari dengan gelitik kumisnya. Gelitik kumis Ari di lembah antara bibir luar dan bibir dalam membuat Shinta semakin erat mencengkeram penis Ari dan karpet. "Ooouugghh.. aakkhh.. aakkhh.. Arr.. oogghh.. kumismu.. gelii.. aaghh.. aahh.. aahh.. aku.. keluaarr.." ceracau Shinta tak karuan, pinggulnya dihempaskan ke belakang menekan wajah Ari, tubuhnya mendongak melepas cengkeraman tangannya di penis Ari. Wajahnya mendongak ekspresif, matanya merem melek, kedua tangannya terlihat meremas rambutnya, kedua bibirnya terbuka lebar dan mendesis kenikmatan. Lidahnya menjilat bergantian di kedua lapis bibirnya menjulur tak peduli suaranya memekik memenuhi ruang itu.Ari masih terlihat menjilat sisa-sisa lelehan mani Shinta yang masih terlihat meleleh di bibir luar lubang vaginanya hingga kesat dan Ari telah mempersiapkan jurus kedua bagi Shinta.Ari kelihatan puas membuat Shinta kelonjotan. "Oogghh.. ooghh.. makasih Arr.. emmpphh.." Shinta masih terengah kelelahan.Perlahan Ari membalikkan tubuh langsing Shinta dan kemudian menggotongnya."Mau kemana Yang?" tanya Shinta manja dan masih terlihat sisa-sisa orgasme pertamanya namun Shinta tidak protes sebagai tanda tidak kesetujuannya.Dalam bopongannya Shinta mencoba meraih bibir Ari dan mengulumnya."Heemmhh.. Yang.. aku.. pasti akan kau buat puas malam ini," bisik Shinta.Kedua tangannya tetap dililitkan di leher Ari, saat Ari mulai menyandarkan tubuh indah kebanggaannya di sofa panjang. Shinta hanya terlihat pasrah apa yang diperbuat Ari yang kini beringsut mengambil dacron kecil dan diselipkannya di bawah pantat Shinta. Shinta sadar bahwa ia hanya ingin menjadi obyek untuk beberapa kali tempo foreplay ini maka dari itu ia hanya pasrah apa yang akan diperbuat Ari padanya.Ari berlutut dan sejenak memandangi vagina Shinta yang terlihat tambah mencuat dan merekah karena pengaruh ganjalan dacron kecil di pantatnya. Klitorisnya semakin kelihatan menonjol kenyal karena terangsang hebat. Ari melipat kedua lutut Shinta dan meletakkan kakinya bertumpu pada sofa sehingga kelihatan seperti jongkok lalu mengisyaratkan Shinta untuk membuka lebar-lebar. Shinta hanya terpejam dan mendesis lembut saat Ari mulai mencumbui lubang vaginanya."Hemmhh.. vaginamu..harum.. Shin.. dann.. emmhh.." puji Ari yang masih terlihat sibuk dengan hisapan dan kuluman di selangkangan Shinta."Oookhh.. hisapanmu.. aakhh.. Ari sayaangg.." rengek Shinta panjang saat Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta dan menghisap bibir dalamnya."Aduuhh.. aahhgghh.. aahhkk.. aakkhh.. uughghh.. ngg.. emmpphh.." Shinta mulai mengigil lagi."Ooohhkkhh.. aakkhh.." pekik Shinta tertahan saat tiba-tiba Ari merebahkan tubuhnya dan kembali mengangkat ke tepi sofa. Pantat seksi Shinta diletakkan di sandaran tangan sisi sofa tersebut dan kedua lututnya tetap terlipat dan pahanya mengangkang lebar."Uuugghh.. Arr.. mau diapain guee.." tanya Shinta lemah. Tubuhnya tergolek indah dan pinggulnya terangkat tinggi di sandaran tangan sisi sofa. Ari tergopoh-gopoh ke sisi pinggul Shinta di sisi sofa dan ia berlutut di sana, tangan kirinya mulai meremas lembut dada Shinta yang kenyal. "Oookhhk.. Yaanngg.. aakhh.. ookhh.. nikmathnyaa.. aahhgghh.." desah Shinta merasakan kecupan bibir Ari di labia minoranya. Sensasi akibat gelitikan kumis Ari dan pilinan tangan kiri Ari di puting kanannya membuatnya teregah-engah. Terlihat Shinta mulai meremas sendiri payudara kirinya, wajahnya tegang memerah menahan birahi yang amat sangat mendesak untuk disemburkan."Aaakhh.. aahhgg.. oohhgg.. oohh.. Arr.. aku mau keluaarr.. nikmatt.." pekik Shinta saat kecupan bibir Ari mulai menggesek lembut lemah vaginanya. Bibir dalam vaginanya terhisap lembut namun terasa kuat dan dahsyat, lubang vaginanya juga terasa penuh gerigi lembut lidah Ari yang menyusup ke sana. Vagina Shinta seperti menetek ke lidah Ari, sementara lidah Ari mulai menjulur keluar masuk di vagina Shinta."Akuu.. kelluuarr.. Arr.. aaggh.. sshh.. aaghh.. aaghh.. uugghh.. sshh.. ooh my god.. nikmath banget.." Shinta terpekik keras saat Ari menghisap dalam dan mengapit kedua bibir dalam vagina Shinta dengan kedua bibirnya sementara lidah Ari dijulurkan maksimal ke dalam lubang rahimnya dan mengaduk aduk G-spot Shinta."Arr.. aku nggak tahaann.. nngghh.. aakgghh.. oohh.. Arii.. mmpphh.." ruangan itu kini penuh dengan desahan histeris Shinta. Shinta sudah tidak mempedulikan Ari lagi dan ia hanya ingin segera dapat menyemburkan maninya banyak-banyak agar tubuhnya terasa ringan dan lega."Aaahh.. Arr.. Aku keluarr.. ooghh.. laagii.. aawww.. aaghh.." pekik Shinta mengakhiri orgasmenya yang entah keberapa. Tubuhnya kelonjotan, bergelinjang-gelinjang kenikmatan. Ari sendiri sebenarnya sudah merasakan orgasme saat Shinta menikmati permainan oralnya, lubang penisnya terlihat meleleh cairan bening. Ari masih mengulang-ulang permainan mulutnya di vagina Shinta kali ini ia berdiri merangkak mengangkangi Shinta."Arr.. udah doongg.. ayoo masukiinn.." rengek Shinta."Mmmpphh.. semakin harum saja lubangmu Shin, apalagi cairanmu ini.." kata Ari seraya membenamkan kembali wajahnya di lubang Shinta."Sluurrphh.. Sluurrphh.." suara lidah Ari kenikmatan."Aaawww.. aawww.. uugghh.. aa.. Arr.. Pleasee.. masukin.. cepet.." rengek Shinta lagi.Rupanya Shinta sudah tidak kuat menahan geli yang amat sangat dari permainan lidah Ari apalagi kalau dihisap bibir dalamnya terasa ubun-ubunnya ikut terhisap. Shinta sudah hampir tak punya tenaga lagi terasa terkuras bersama semburan maninya berkali-kali.Ari kemudian membimbing Shinta bersandar di sofa lalu memberikan french kiss yang lembut berdiri dengan lututnya, cukup lama kedua insan itu bercumbu. Ada sensasi lain yang ia rasakan selain nafsu dan kini hatinya sedikit gundah."Ar! makasih yach, permainanmu memang hebat.." puji Shinta."Maukah kamu." imbuh Shinta."Ssstt.. nggak perlu dilanjutin aku tahu kok apa yang kamu akan ucapkan, lagian permainanku kan belum puncak.." sergah Ari sambil menempelksn telunjuk kanannya di bibir Shinta.Kedua insan itu lantas terdiam kemudian saling membisu."Shin, maukah kamu menjadi kekasihku, lebih dari apa yang kita lakukan sekarang..?" tanya Ari sembari melepas kecupan di kening Shinta memecah kesunyian.Rupanya diam-diam Ari terpesona dengan ekspresi Shinta, demikian Shinta takluk di lutut Ari. Ari kemudian teringat Sri pacarnya yang ia pacari hampir 1 tahun lalu dimana Sri hampir tidak pernah mau dengan permainan oral Ari. Sri sendiri tidak begitu antusias dengan seks dan hal ini tidak seimbang dengan hasrat Ari."Ar! kamu udah tahu semua tentangku kan? dan aku tidak mau mengecewakan kamu." kata Shinta."Apa pun itu Shin aku menerimanya, aku juga bukan orang yang suci." balas Ari datar."Lagian kamu orangnya hebat, nafsunya hot dan yang paling aku suka adalah keenam bibirmu," puji Ari."Enam..?" Shinta penasaran."Iya emang kamu nggak merasa.. apa?" tanya Ari sambil menenggak jahe gingsengnya yang kini sudah mulai digin. Shinta masih tampak kebingungan dengan maksud Ari. Kemudian Ari mengambil tempat duduk di sebelah kiri Shinta lalu mengambil kedua paha Shinta dan ditempatkan di pahanya. Tangan kanannya merengkuh tengkuk Shinta yang kini tergolek di pelukannya."Aku suka tubuhmu yang indah Shin.. tinggi, pinggulmu panjang, bibirmu yang tebal ini mengingatkan aku seperti milik Titi DJ, pantatmu padat berisi apalagi ini.." puji Ari seraya mengulum puting Shinta."Emmpphh.." sedang tapi kenyal bukan main."Ditambah dengan ini.. keempat bibir bawahmu yang tebal lembut dan harum terawat," puji Ari tak henti-hentinya.Shinta semakin melambung ke awan dengan pujian dan rayuan Ari, kini aliran darahnya mulai mengalir deras kembali dan hangat terasa di bagian bawah pori-porinya. Tubuhnya terasa haus pelukan lagi menandakan gairahnya terbakar lagi. Ari masih terlihat menjilat, mengulum seluruh bagian kepala Shinta, penisnya terlihat sedikit mengendor. Ari tahu bahwa Shinta mulai horny lagi dan kini ia meningkatkan tempo pemanasannya."Uuugghh.. aagghh.. aagghh.. Arr.. aku mau lagi, Yang!" rengek Shinta lagi."Kita ke kolam renang yuk.." ajak Ari, kemudian dalam sekejap Shinta sudah dalam bopongan Ari.Keduanya terlihat mencebur kolam bersamaan. Ari dan Shinta berenang telanjang bersama dan sesekali bercumbu mesra. Lima belas menit kemudian naik ketepian dan berjalan ke arah tembusan pintu dapur."Bik Ijaahh.. temenin aku doongg.. pakai tuh baju renangku di kamar mandi.." teriak Shinta keras sambil mengetok pintu."Tapi Shin.." sergah Ari."Ar, rasanya aku nggak kuat dech meladeni nafsu kamu yang.." Shinta mencoba menghentikan perkataannya seraya mendekat ke Ari."Iya Neng Shinta.." sahut Bik Ijah dari dalam.Setengah menit kemudian Ijah keluar dan sudah mengenakan pakaian renang milik Shinta dan handuk dililitkan di pinggulnya."Wow kalo begini ini sich bukan pembatu tapi pantas jadi nyonya rumah.." guman Ari."Tubuhnya sintal, dadanya menggunung 36B, kulitnya kuning mulus, pantatnya.. wow sungguh pemandangan indah.." Ari masih terkagum pada penampilan Bik Ijah."Hush.. jangan bengong.. aku duluan.." protes Shinta memecah lamunan Ari.Kemudian Bik Ijah menceburkan diri ke kolam renang lalu berenang sepuas hatinya. Di sisi kolam Ari dan Shinta mulai bercumbu, Shinta mengapitkan kedua pahanya di pinggul Ari karena kurang tinggi. Ari bersandar di tepian kolam dan mencumbui leher dan bibir Shinta bergantian."Emmhh.. oogghh.. aagghh.. Arr.. shhss.." desah Shinta memulai permainannya. Ijah mendekat ke arah Ari dan Shinta dan mengambil tempat di belakang Shinta, Ia membantu mengikat rambut Shinta. Kemudian Ijah perlahan melepas pakaian renangnya dan menempelkan dada motoknya di punggung Shinta."Ooohh.. hangat.. tetekmu.. Biik.. oohh nikmat Ar.." Shinta terbata. Ijah kemudian menggosok dan sesekali menekan sambil diputar payudaranya di punggung Shinta secara teratur."Emmphh.. aakhh.. aagghh.. sshh.. nngghh.. Ohh Arii.. lidahmu.. gelii.. oogghgh.. Ijah.. Ijahh.. oogghh.. tetekmu.. ooghh putingmu gelii.." ceracau Shinta tak karuan.Ari melepaskan satu tangannya dari bokong Shinta dan melesak ke selangkangan Shinta."Aawww.. uughh.. pelan-pelan Arr.." Shita kesakitan karena Ari sedikit kasar tadi."Ar! penismu udah tegang.. masukin yach," rajuk Shinta lalu merapatkan kedua dadanya ke dada Ari dan menggeser ke belakang pinggulnya.Sedetik kemudian.."Slerrpphh.." dan, "Aaagghh.. aagghh.. oohh.. penismu panjang, Yang.." desah Shinta yang kemudian menggoyang pinggulnya pelan."Emmpphh.. oohh.. Arr.. nikmat Sayangg.." Shinta merem melek. Sensasi yang ia rasakan adalah kehangatan diantara dua tubuh dan sensasi pijatan air akibat gerakan maju mundurnya.Shinta masih bergelayut di pundak Ari, wajahnya expresif miring ke kiri sementara Ari melingkarkan lengannya di tubuh kedua wanita itu. Ari memainkan lidahnya di rongga Ijah untuk mencumbui wanita bahenol itu dan tampaknya Ijah sudah sangat terangsang. Permainan mulutnya sangat lembut dan penuh birahi, wajahnya memerah menahan birahinya."Mmmpphh.. Mass Arii.. ookhh.." desah Ijah."Biik puter lagi putingmu.. cepeeth.. aaughh.. aku.. aakk.. takk.. kuuwww.." Ijah tidak menjawab namun kedua putingnya ditekan keras lalu diputarnya, kedua tangannya memilin dan meremas payudara Shinta. Ari sendiri melepaskan kedua sanggahan tangannya di pantat Shinta karena Shinta sudah mempererat himpitan kedua pahanya di pinggangnya. Tangan Ari lalu menjelajahi pantat Ijah kemudian membukanya dan mulai permainan kedua telunjuknya di area antara vagina dan pantat Ijah. Telunjuknya ia gosokkan pelan dari arah belakang. "Ssshh.. oohh.. Mass.. sshh.. Arii.. tusuk lebih dalaam Mass.." Ijah mulai menggigil."Arr.. aawww.. aawww.. eengghh.. oogghh.. Aku keluaarr.. aahh.. aahh.. aahh.. oogghh.. ouughh.. sshh.. Arii.. aku gellii.." Shinta lalu mencabut gigitan vaginanya karena geli menahan orgasmenya kali ini. Ia mendorong kuat-kuat kedua kakinya ke dinding kolam sampai Ijah terhempas ke belakang dan gelagapan.Kemudian Shinta berenang ke tepian, berjalan mengambil handuk lalu duduk di kursi menenggak jamu bikinan Ijah. "Maaf Bik, aku tadi ngilu banget.. sekarang milikmu.." Ari sejak tadi hanya terdiam karena spermanya sebetulnya tadi ingin segera ia semprotkan ke rahim Shinta kini tertunda. Akan tetapi kekecewaannya terobati setelah Ijah mendekatinya lalu mengajaknya ke tepian kolam. Ijah memposisikan dirinya doggy style kesukaannya dan dari sisi kolam yang dangkal Ari menghujamkan 16 cm penisnya keras-keras ke vagina Ijah. Ijah sendiri sebetulnya suka seks gaya sedikit keras dan tampaknya ia menikmati kocokan Ari.Kocokan demi kocokan Ijah terus melenguh, mendesah, kadang menghempaskan tubuhnya menahan geli akan tetapi Ari kali ini tidak mau melepaskan mangsanya begitu saja, ia mencengkeram pinggul Ijah erat membuat Ijah semakin kelonjotan berteriak-teriak kegelian bercampur nikmat yang amat sangat. "Mass.. Arrii.. akuu.. aaghh.. aaghh.. aaghh.. oohh.. mauu.. lagii.." teriak Ijah panjang. Ari mekin keras menghujamkan penisnya ke dalam rahim Ijah dan semenit kemudian Ari dan Ijah berteriak keras bersamaan melepas semua beban birahinya. Shinta hanya tersenyum kelelahan di kursi sana lalu menawarkan minuman penghangat bagi Ari dan Ijah. Malam bergulir seiring dengan desahan manusia yang haus seks di rumah itupun mengiringi datangnya sang fajar.Seminggu setelah kejadian itu, Ari putus dengan Sri dan resmi menjadi pacar Shinta dan rasanya mereka cocok dalam hal seks. Beribu macam gaya telah mereka lakukan untuk meraih kepuasan birahinya. Ijah sendiri kemudian menjadi wanita panggilan papan atas, atas saran Shinta daripada hanya sebagai pembantu.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More